Wasiat Terbaru Ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk Para Mujahid

2.5.11

Usamah bin Ladin Masih Hidup Melalui Wasiatnya

Voa-Islam.com - Siapa bilang Usamah bin Ladin sudah gugur di tangan Amerika Serikat? Jasadnya boleh hancur lebur, tapi wasiat perjuangannya tak pernah punah. Inilah intisari Surat Syaikh Al Mujahid Usamah bin Ladin yang terangkum dalam buku “At-Taujihat Al-Manhajiyyah 3, Idha’at ala Thariqil Jihad” yang ditulis langsung oleh Usamah bin Ladin.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Risalah ini sengaja saya sampaikan kepada Anda semua, khususnya dalam mengobarkan semangat (tahridh) untuk berjihad, melawan mata rantai penjajahan besar yang terus mengguncang dan menyerang umat kita. Apalagi, sebagian penjajahan itu sudah tampak dengan dengan sangat jelas:
Seperti penjajahan yang dilakukan bangsa salibis terhadap Baghdad dengan dibantu oleh orang-orang murtad terhadap negeri Khilafah, dengan kedok inspeksi terhadap senjata pemusnah masal.
Contoh lain adalah berbagai konspirasi licik untuk menghancurkan Masjidil Aqsha dan memberants jihad serta mujahidin di negeri Palestina tercinta dengan kedok Peta Jalan Damai (Road Map) dan perjanjian Jenewa untuk misi perdamaian.
Demikian juga arus media informasi bangsa salibis yang terus memojokkan umat Islam..Niat busuk Amerika akhirnya terbukti melalui pernyataan-pernyataan mereka tentang mendesaknya diadakan perubahan keyakinan, gaya hidup, dan akhlak kaum muslimin, supaya kaum muslimin menjadi orang yang paling memiliki sikap toleransi – menurut istilah mereka.
Lebih jelasnya, sebenarnya mereka melancarkan perang terhadap agama dan ekonomi. Mereka ingin menjauhkan manusia dari menghambakan diri kepada Allah dan mengubahnya menjadi budak sesama manusia; mereka bertujuan menjajah negeri, dan merampok kekayaan alamnya. Anehnya lagi, bangsa salib memaksakan sistem demokrasi dan budaya Amerika dengan menggunakan rudal-rudal bom. Makanya, yang kita nantikan di masa mendatang nampaknya jauh lebih menyeramkan dan pahit.
Penjajahan Irak hanyalah satu dari sekian mata rantai konspirasi jahat bangsa Zionis-Salibis. Pada gilirannya nanti, penjajahan global akan merambah negara-negara Teluk lain, sebagai titik awal untuk memperluas cengkeraman dan hegemoni mereka terhadap seluruh negara di dunia. Sebab menurut negara-negara besar, kawasan Teluk adalah kunci untuk menguasai dunia, karena mereka melihat cadangan minyak dunia terbesar ada di sana.
Jadi, pejajahan Baghdad hanyalah pelaksanaan dari pemikiran dan langkah politik Amerika yang sudah dirancang jauh hari. Kawasan Teluk sudah menjadi target sejak lama, hari ini masih saja menjadi target, dan akan terus menjadi target di masa depan.
Lantas, apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapinya?
Serangan pasukan Zionis-Salibis yang menyerang umat pada hari ini, secara mutlak adalah serangan yang paling berbahaya dan ganas, pasukan ini mengancam umat secara keseluruhan, baik dunianya maupun agamanya.
Bukankah Bush sendiri mengatakan bahwa ini adalah perang Salib? Bukankah dia sendiri mengatakan perang ini akan berlangsung bertahun-tahun dan targetnya ada 60 negara? Kalau kita hitung, bukankah negara-negara Islam berjumlah hampir 60 negara?
Tidakkan Anda semua melihat? Bukankah mereka sendiri mengatakan akan mengubah agama masyarakat kawasan Teluk yang menyebabkan kebenciannya kepada rakyat Amerika?
Sungguh mereka ingin menyerang Islam dan ajaran tertingginya (jihad) sebelum menyerang yang lainnya. Mereka mengerti bahwa mereka tidak akan bisa menikmati kekayaan alam dan negeri kita selama kita masih menjadi muslim dan mau berjihad. Renungkanlah semua ini dengan seksama!  
●●●●●
Masih dari ungkapan Usamah bin Ladin:
“Dulu, negeri-negeri Islam tidak berhasil dibebaskan dari penjajahan militer kaum salibis, kecuali dengan mengangkat panji jihad di jalan Allah. Karenanya, dengan berkedok perang melawan teroris dan bantuan kaum munafik, hari ini bangsa Barat mati-matian untuk merusak citra jihad dan membunuh siapa saja yang coba mengangkat panjinya.”
Pada dasarnya, mereka semua tahu, bahwa jihad adalah senjata sangat efektif untuk menggagalkan seluruh program penjajahan mereka. Jihadlah jalannya, maka ikutilah jalan tersebut. Sebab, kalau kita mencari cara melawan mereka dengan selain cara Islam, kita hanya seperti orang yang berputar di lingkaran kosong…
Demi Allah, saya menginginkan keselamatan agama dan dunia kalian. Betapa tidak?! Kalian adalah saudara-saudaraku seagama, secara nasab pun kalian adalah keluargaku, dan penunjuk jalan tidak akan berdusta kepada keluarganya. Maka bukalah telinga dan hati kalian, agar kita bisa mengkaji persoalan yang rumit ini, dan bagaimana cara untuk keluar dari jalan yang bertubi-tubi ini.
●●●●●
Nampak dengan nyata, bahwa para penguasa dunia Arab itu lemah dan berkhianat. Mereka tidak berjalan di atas manhaj Islam yang lurus. Tetapi berjalan sesuai hawa nafsu dan keinginan syahwatnya. Inilah yang menyebabkan mundurnya perjalanan umat sejak beberapa dekade silam.
Selanjutnya, kita bisa saksikan dengan jelas bahwa solusinya adalah berpegang teguh pada agama Allah; setelah itu mengangkat kepemimpinan yang kuat lagi terpercaya, yang menegakkan aturan Al Qur'an kepada kita, serta menegakkan panji jihad secara sungguh-sungguh...
"Waspadalah semua seruan yang mengajak untuk membuang senjata dengan kedok dakwah kepada kedamaian. Karena pada dasarnya, itu adalah seruan yang akan menghinakan dan menyerahkan kita dimangsa musuh. Tidak ada yang mengkampanyekan seruan-seruan seperti ini selain orang jahil atau munafiq."
                                               ●●●●●
Maka, para da'i yang menyeru kepada perbaikan, harus mengetahui, bhwa jalan menuju perbaikan dan persatuan Islam serta bersatunya mereka di bawah kalimat tauhid, bukanlah dengan muhadharah (seminar-seminar) yang bersifat teoritis atau menulis buku saja, tapi harus ada proyek nyata yang melibatkan seluruh elemen umat - sesuai kemampuan masing-masing, yang tersederhana adalah berdoa dan memohon kepada Allah, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.
Karena jihad di jalan Allah adalah bagian tak terpisahkan dari Islam, bahkan ia adalah puncak Islam, mana mungkin Islam akan bertahan tanpa ada puncaknya!
Dan jihad ini sangat mendesak sekali dalam rangka mempertahankan eksistensi umat, mempertahankan harga diri dan kelanggengannya...
                                                 ●●●●●
"Saya serukan kepada pemuda Islam untuk berjihad, terutama di Palestina dan Irak. Saya berwasiat pada diri saya sendiri dan kaum muslimin untuk bersabar dan bertaqwa, serta melancarkan serangan kepada musuh semaksimal mungkin, dengan tetap menjaga betul, jangan sampai darah kaum muslimin ikut tertumpah dalam operasi tersebut...
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar dan bertaqwa. 
sumber; voa-islam.com

26.4.11

Melongok Argumen Yang Menghalalkan Ngebom Polisi Saat Shalat di Masjid

JAKARTA (voa-islam.com) – Bom bunuh diri yang dilakukan Muhammad Syarif Astanagarif untuk menggapai kesyahidan (istisyhad) di Masjid Az-Zikra Mapolresta Cirebon, saat jamaah sedang menunaikan shalat Jum'at (15/4/2011) lalu, melahirkan kontroversi.
Sebagian besar ulama mengecam pemboman itu dengan berbagai fatwa, antara lain: tidak paham fiqih jihad sebab dalam fiqhul jihad sama sekali tidak dibenarkan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah;  tindakan yang melanggar syariat Islam; tindakan yang haram, dsb. Tentunya, fatwa ini bukan asal-asalan, melainkan berlandaskan disiplin ilmu syariah yang mereka tekuni.
Menanggapi komentar negatif terhadap bomber di masjid saat shalat Jum'at itu, muncul pembelaan dengan dalil-dalil dan rujukan banyak kitab ulama, yang diposting di berbagai blog, mailis maupun jejaring sosial. Voa-islam.com sendiri menerima email dari seseorang yang menamakan diri Abu Khataf Saifur-Rasul, Sabtu (23/4/2011).  Dalam email berjudul "Jawaban untuk para komentator bom masjid mapolres Cirebon" itu, Abu Khataf meradang dengan menyebut para ulama yang tidak setuju dengan Bom di Masjid Az-Zikra Cirebon saat shalat sebagai orang yang jahil murakkab, IQ di bawah standar, IQ jongkok, lancang, dsb. Kepada umat Islam yang tidak bernah berjihad di medan perang, Abu Khataf meminta agar tidak ngoceh dalam masalah jihad itu.
Dalam risalahnya, secara tegas Abu Khataf menfatwakan halalnya darah polisi RI di manapun berada, baik Brimob, Reserse maupun Polantas, karena mereka adalah kafir yang melindungi hukum thogut, memerangi mujahidin, dan berkiblat ke Amerika.
Inilah email Abu Khataf yang mengemukakan argumen bolehnya membunuh polisi di masjid saat sedang menunaikan shalat. Email dikutip apa adanya, tanpa editing apapun untuk menjaga orisinilitas. Berbagai style bold, italic , capital maupun ejaan dalam kutipan ini sama sesuai yang dikirimkan via email kepada voa-islam.com:
“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Risalah ini adalah tanggapan terhadap komentar-komentar tentang apa yang terjadi pada hari jumat 15 april 2011 di cirebon (bom cirebon).
Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa
1. Ana (Abu Khataf) tidak kenal dengan pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu.
2. Ana (Abu Khataf) asumsikan bahwa pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu adalah seorang muslim yang meniatkan apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka jihad fisabilillah. Singkatnya mereka adalah mujahid -dan Alloh SWT yang maha tahu niat mereka di dalam hati-
Telah mengabarkan kepada ana, beberapa ikhwan tentang komentar-komentar sumbang dan kadangkala lucu bahkan memalukan atas peristiwa bom polres cirebon. Anehnya komentar-komentar miring tersebut didendangkan oleh oknum yang mengaku bermanhaj jihad dan pejuang syariat, serta mengaku sebagai penggede mujahidin.
Berikut komentar-komentar yang ana dengar skaligus kami berikan tanggapannya.
1. Mereka para polisi yang menjadi target/korban adalah muslim karena mereka masih sholat sehingga tidak boleh di tumpahkan darahnya.
JAWABAN:
Apakah kalian kira jika orang masih sholat berarti dia seorang muslim meskipun melakukan kekafiran yang dhohir mutawatir??? Aduhai… Kasian sekali wahai orang-orang jahil murokab jika kaliah beraqidah demikian.
Tidakkah kalian tahu:
- Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah mengutus Baro’ bin Azib untuk membunuh orang yang menikahi ibu tirinya padahal dia masih sholat??
-Rasululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah berencana memerangi bani Mustholik ketika di beritakan mereka enggan membayar zakat padahal mereka juga masih sholat, tapi ternyata berita itu adalah berita dusta.
- Abu Bakar As-Shidiq ra. memerangi pengikut Musailamah al kadzab padahal diantara mereka masih ada yang sholat.
- Abu Bakar As-Shidiq ra. juga mmerangi orang-orang yang menolak zakat dan telah menjadi ijma’ bahwa mereka adalah kelompok murtad padahal mereka juga masih sholat.
-Ali bin Abi Tholib ra. membakar orang-orang yang ghuluw terhadap beliau padahal mereka juga masih sholat
- Dan masih banyak contoh-contoh salaf, mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah serta harta orang-orang yang melakukan kekafiran padahal mereka masih sholat.
Contoh terakhir adalah kasus bani Ubaid bin Godah yang mengaku keturunan Fatimah mereka mendirikan sholat jumat & sholat jama’ah, mengangkat para qadhi dan mufti tapi hal ini tidak menghalangi para ulama mazhhab maliki dan yang lain untuk mengkafirkan mereka diantara ulama yang mengkafirkan adalah al imam asy syahid -begitu menurut persangkaan ana- Abu Bakar An-Nabulisi.
lalu pertanyaannya, apa yang membuat para polisi itu kafir sehingga halal darah dan harta mereka untuk di tumpahkan meskipun mereka masih sholat???
Kita tau bahwa negara ini adalah negara kafir dan thoghut, itu dkarenakan negara ini menerapkan hukum thoghut (UUD45 dan pancasila) dan negara ini juga berkiblat ke amerika si gembong kekafiran dunia dalam memerangi mujahidin, sehingga dengan demikian seluruh penyelenggara negara ini, mereka adalah kafir, musyrik dan thoghut dengan variatif tingkatannya.
Lalu dimana posisi polisi???
Di dalamUUD45 bab xii psl 30 (4) di dalam kitab thoghut ini di katakan “KEPOLISIAN NEGARA RI SBG ALAT NEGARA YG MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT, BERTUGAS MELINDUNGI, MENGAYOMI, MELAYANI MASYARAKAT SERTA MENEGAKKAN HUKUM”.
Jadi polisi RI adalah kafir baik itu brimob, reserse maupun polantasnya. Tidak ada perbedaan karena mereka di satukan dengan satu tujuan dan tugas yaitu menegakkan dan melindungi hukum thoghut. Mereka dibawah satu pimpinan, satu tujuan, dan satu tugas. Sedangkan individu-individu tho’ifah mumtani’ah adalah mengikuti status pimpinannya berdasarkan al kitab, assunnah, ijma’ dan kaidah fiqhiyah. Jadi mereka itu kafir yang halal darah dan hartanya secara hukum dhohir, meskipun mereka mengaku islam, sholat, zakat, puasa & haji. Karena kekafiran mereka bukan dari sisi ini.
Silahkan rujuk kitab2 berikut utk mengetahui dalil-dalilnya.
1. Ad duror assuniah juz 8 cetakan lama
2. At tibyan fie kufri man a’na al amrika (Syaikh Nashir Bin Hamd Al Fadh
3. Al jami’ buku ke 10 (Syaikh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz)
4. Da’wah muqowamah terutama pd anggaran dasar ( Syaikh Abu Mush’ab As Suri)
5. Masa’il min fiqh jihad Abu Abdillah al muhajir
6. Dan kitab2nya Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Aly Khudair.
2. Mujahidin menjadikan tempat ibadah (masjid) sebagai target/sasaran.
JAWABAN:
Ini mungkin tuduhan yang paling konyol dan tidak masuk akal yang ana dengar, yang tidak mungkin tuduhan ini di lontarkan kcuali oleh orang-orang yang IQ-nya di bawah standar ( IQ jongkok).
Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, seandainya yang menjadi target mujahidin adalah masjidnya tentu mujahidin tidak akan menyerangnya di saat banyak orang berkumpul di dalamnya. Jika bangunan masjidnya yang ingin dimusnahkan tentu mujahidin akan memilih waktu dmana masjid itu kosong dan tidak perlu mujahidin melakukan aksi istisyhadiah jika hanya untuk menghancurkan bangunan kosong..
Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, yang menjadi target mujahidin bukanlah bangunannya. Tapi yang menjadi target adalah orang-orang yang dianggap musuh yang berada di dalam bangunan tersebut. Ini sebenarnya bisa di fahami dan dimengerti oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya untuk menilai dan berfikir. Tapi apa mau dikata, ternyata kita juga menghadapi orang-orang yang memiliki akal dibawah standar.
3. Mujahidin menyerang orang-orang yang beribadah di dalam masjid.
JAWABAN:
Coba kalian baca dan renungi ayat ini, ” Alloh Ta’ala berfirman: apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu DIMANA SAJA KAMU JUMPAI MEREKA. (QS. 9:5)
Jadi perlu kalian ketahui larangan membunuh orang-orang musyrik kafir itu tidak terkait dengan tempat tapi masa haram 4 bln yaitu dari 10 zulhijjah hingga 10 rabiulakhir. Inipun dengan catatan mereka tidak memerangi mujahidin.
Berangkat dari ayat yang mulia inilah mujahidin akan terus mengejar, mengintai, dan membunuh orang-orang kafir musyrik dimanapun meerka berada hatta jikapun mereka bergelanyut di tirai ka’bah, mujahidin tetap akan membunuh mereka jika dipandang mereka perlu dihabisi. Karena rumusnya sederhana, “Perang terjadi (dikobarkan) ditempat adanya musuh”.
Mudah-mudahanan kalian faham!
4. Perbuatan itu ( tafjir masjid mapolres cirebon) mafsadatnya lebih besar dari manfa’atnya bagi kaum muslimin, dakwah tauhid dan mujahidin sendiri.
JAWABAN:
Syubhat manfa’at dan mafsadah ini adalah warisan turun temurun dari orang-orang yang sebenarnya tidak menginginkan tegaknya jihad kecuali jika sudah sesuai dengan planing and strategy kelompok mereka.
Untuk itu biarlah jawaban dari subhat ini kita berikan kepada ahlinya, yaitu Syaikh Nasr bin Hamd al Fahd yang dikutib oleh Syaikh Aiman adz-Dzowahiri dalam kitab at-tabriah hal 144.
Syaikh Nasr menjawab subhat ini dengan mengatakan:
“Benar memang suatu perintah kalau kerusakannya lebih besar daripada maslahatnya, maka tidak disyariatkan saat itu. Akan tetapi ada 2 hal yang perlu diperhatikan :
1. Mafsadah ataupun manfaat yang di maksud adalah mafsadah atau manfaat hakiki syar’i bukan angan-angan atau dugaan.
2. Sesungguhnya kelompok yang paling layak dan utama untuk memandang/menentukan manfaat dan mafsadah dalam jihad mereka adalah mujahidin, bukan qo’idun yang tidak mengerti bagaimana cara memegang pistol.”
Kalian faham wahai pemuja maslahat dan mafsadat???
Kalian faham bahwa orang yang tidak pernah berdebu di dalam jihad fiesabilillah, tidak pernah memenggal kepala orang kafir atau menembakkan sebutir peluru ke arah orang-orang kafir tidak layak ngoceh masalah mafsadah atau maslahat dalam jihad??!
Tapi sayang… Hari ini banyak orang-orang yang lancang mengambil suatu urusan yang bukan menjadi haknya.
5. Jubir mereka mengatakan “tindakan itu diharamkan karena tidak sesuai dengan kaidah fiqh jihad”.
JAWABAN :
Wahai pak jubir kenapa anda jadi sewot??
Coba tunjukkan dalil dari Al Qur’an, Sunnah,Ijma’ dan aqwal salaf tentang keharoman membunuh/mengebom anshor thoghut (polisi) kalau memang pak jubir merasa diatas al haq.
Coba tunjukkan kaidah fiqh jihad yang mana yang tidak sesuai dengan amaliyah istisyhadiyah tersebut jika pak jubir merasa faham dengan kaidah fiqh jihad. Apakah harom yang pak jubir maksud adalah menurut kitab jama’ah anda?? Maka kalau itu yang pak jubir maksud mungkin saja pak jubir benar.
Mungkin kata-kata ana terlalu kasar untuk pak jubir, itu dikarenakan pak jubir tidak memiliki belas kasihan dan pembelaan sama sekali terhadap pelaku yang keislamannya tsabit dan tujuannya jelas sebagaimana tertulis dalam wasiat pelaku yang dipublikasikan sendiri oleh jubir thoghut.
Seandainya pak jubir lebih hati-hati dalam menjaga lisan, tentu kami juga akan lebih hati-hati dalam menjaga lisan kami terhadap pak jubir, insyaAlloh.
Seandainya pak jubir mau merinci haromnya dimana dengan dalil-dalil syar’i dan juga dimana tidak sesuainya dengan kaidah fiqh dengan perincian yang syar’i tentu kami juga akan menjawab dengan perincian yang syar’i, insya Alloh.
Ketahuilah wahai pak jubir, antara kita ada Al Qur’an, assunnah, ijma’ maka mari kita kembalikan perbedaan kita kepada dalil. Mudah-mudahanan isyarat singkat ini bisa pak jubir fahami.
Wahai Rabb yang memahamkan Sulaiman, fahamkanlah saudaraku pak jubir..
6. Kelompok-kelompok islam berkumpul pada tgl 18 april 2011 mereka menyatakan kesamaan sikap mengutuk dan mengharamkan peledakan di cirebon
JAWABAN:
Sungguh memalukan sekali apa yang kalian lakukan ini..
Kalian bersegera tergopoh-gopoh membela thoghut saat mereka sedikit tertimpa musibah !!
Ana bertanya kepada kalian :
Dimana kalian ketika DR. Azhari dibantai oleh thoghut didepan mata kalian???
Dimana kalian saat 3 mujahid di eksekusi regu tembak thoghut didepan mata kepala kalian???
Dimana kalian saat kaum muslimin di poso dibantai thoghut juga didepan mata kalian?
Dimana pembelaan kalian saat al akh Nurdin, Jabir, Urwah, Ibrahim, dan ikhwan-ikhwan di aceh diberondong peluru thoghut tanpa ampun di depan mata kepala kalian??? Bukankah mereka kaum muslimin???
Bukankah mereka haram darahnya untuk ditumpahkan???
Adakah kalian berkumpul seperti yang kalian lakukan saat ini untuk menyatakan sikap pembelaan???
Tapi lihatlah kalian saat ada segelintir thoghut yang terluka, kalian segera berkumpul dan segera menyatakan baro’ kalian terhadap aksi tersebut dan bersimpati dengan luka-luka si thoghut.
Demi Alloh, telah nampak kemunafikan kalian dengan apa yang kalian lakukan !!
Ya Alloh, saksikanlah.. Kami baro’ terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu..
Ana cukupkan tanggapan tentang suara-suara sumbang yang tidak berperikeikhwanan dalam menyudutkan pelaku bom cirebon, sebenarnya masih sangat banyak nada-nada sumbang yang kami dengar.. Biarlah semua itu menjadi bumbu pelezat dalam perjuangan..
Terakhir ana tujukan kata-kata ini untuk ikhwan-ikhwan mujahidin ‘amilin fiesabilillah, siapapun dan dimanapun kalian berada. Kepada mereka yang mencintai Alloh dan Alloh pun mencintai mereka. Mereka yang adil, lembut dan sayang kepada orang-orang mukmin dan keras, tegas serta ganas terhadap orang-orang kafir.
Kepada mereka yang terus berusaha menghidupkan ibadah jihadiyah baik dalam kondisi sempit ataupun lapang..
Kepada mereka yang tidak pernah menghiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci dan bualan orang-orang yang suka membual..
Kepada mereka ana ucapkan Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha jihadiah yang kalian lakukan.
Demi Alloh, kalian telah -menjadi perantara Alloh- untuk membuat kami tertawa dan senang atas mengalirnya darah dari satu kelompok yang telah -dengan ijin Alloh- mengalirkan banyak darah mujahidin, seperti yang kalian ketahui…
Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha kalian yang telah membuat luka kelompok yang telah banyak melukai saudara kalian..
Jazakumulloh khayran jaza’ kepada kalian yang telah membuat menangis kelompok yang juga telah membuat menangis anak_anak saudara kalian karena abi-nya ditangkap, disiksa dan dibunuh didepan mata kepala mereka, seperti sudah maklum bagi kalian…
Demi Alloh…
DemiAlloh kami ridho dengan apa yang kalian lakukan meskipun banyak orang lain yang tidak ridho dengan apa yang kalian lakukan, maka tutuplah telinga dan mata kalian dari orang-orang yang tidak menginginkan jihad kalian..
Cukuplah Alloh bagi kalian..
Demi dzat yang telah meluluh lantakkan pasukan abrahah, kalian berperang bukan karena jumlah, kekuatan atau bilangan, tapi kalian berperang karna dien ini yang Alloh muliakan kita denganya..
Inilah keyakinan pendahulu kalian komandan perang mu’tah Abdullah ibnu Rawahah, maka peganglah erat-erat wasiat pendahulu kalian.
Jangan kalian terlalu berharap meraih kemenangan sempurna, mengharap daulah/khilafah tegak pada jaman kita karena hal itu adalah perkara yang ghoib yang hanya diketahui Alloh .
Yang harus kalian yakini menurut ana adalah bahwa kita adalah generasi ‘tumbal’ tegaknya kejayaan islam, maka bergembiralah wahai generasi “tumbal”..
Adapun kepada para kritikus / komentator jihad ana katakan :
“JIKA KALIAN TDK MALU SILAHKAN LAKUKAN APA YG KALIAN INGINKAN”

Demikian kutipan utuh fatwa Abu Khataf yang dikirimkan ke redaksi voa-islam.com. Sayangnya, Abu Khataf tidak menjelaskan secara tafshil (rinci), terhadap polisi yang dihalalkan darahnya untuk dibunuh di manapun berada termasuk di masjid saat shalat itu: apakah menumpas habis terhadap makhluk yang bernama polisi itu sebuah kewajiban atau sekedar mubah? Lalu seandainya membunuh polisi adalah sebuah kewajiban, apakah termasuk fardhu kifayah ataukah fardhu 'ain? Lalu apakah status polisi Muslim dengan polisi non Muslim dipandang sama sebagai makhluk kafir yang sama-sama boleh dibunuh kapanpun dan di manapun berada?
Sayangnya pula, Abu Khataf dalam fatwanya juga belum merinci kenapa harus melakukan itu semua dengan bom yang rawan melahirkan salah korban terhadap warga sipil dan umat Islam? Bom Masjid Az-Zikra Cirebon misalnya, korbannya (tidak sampai mati) juga tidak semuanya polisi.
Pertanyaan lainnya, tanpa bermaksud mengecilkan siapapun, kenapa para bomber istisyhad itu memfokuskan diri kepada polisi yang notabene mayoritas KTP-nya tercantum agama Islam? Kenapa para nabi palsu pendiri sekte-sekte sesat dan para kafirin yang jelas-jelas memurtadkan umat Islam, mencerca Allah Ta'ala, menghina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan melecehkan syariat Islam justru kurang mendapat tempat dari bidikan mereka? Padahal kelompok kedua ini lebih jelas dan tidak ada ikhtilaf hukumnya, baik hukum syariat maupun hukum negara sama-sama memusuhi mereka.
Istimbath hukum terhadap semua persoalan ini –dan seribu satu pertanyaan lainnya– tentu perlu kajian yang mendalam dari para ulama yang berkompeten, dengan pemahaman yang sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak emosional tentunya. Bukan soal nyali jihad dan ambisi berani mati syahid semata, tapi karena menyangkut dua hal yang sama-sama krusial: takfir dan nyawa.
Menyangkut takfir, bila kaum yang dikafirkan (lalu dihalalkan darahnya) itu dibenarkan secara syar'i, tentunya tidak menjadi persoalan. Tapi bagaimana jika takfir itu salah alamat? Bukankah takfir yang salah alamat itu bisa kembali kepada diri sendiri?
Soal nyawa, bila aksi penghilangan nyawa  itu sesuai dan dibenarkan secara Syar'i, tentunya juga tidak bermasalah. Tapi bagaimana bila kelalaian aksi, mengakibatkan salah korban? Bukankah Allah Ta'ala sangat menghargai nyawa, bahkan nyawa satu orang sama dengan nyawa semua manusia di muka bumi (Qs. Al-Ma'idah 32), sehingga pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan adalah dosa besar yang diancam dengan neraka Jahanam (An-Nisa 93)? Wallahu a'lamu bis-shawab [taz]

11.4.11

Runtuhnya Demokrasi, Saatnya Revolusi..!

Oleh: Habib Rizieq Syihab (Ketua Umum DPP Front Pembela Islam)
Keruntuhan Demokrasi sudah di ambang pintu. Hal itu ditandai dengan Revolusi Tunisia yang berhasil mengusir diktator demokrasi Ben Ali, yang kemudian berlanjut dengan  Revolusi Mesir yang berhasil menggulingkan diktator demokrasi Husni Mubarok. Angin revolusi mulai berhembus ke sejumlah Negara Demokrasi Arab seperti  Al-Jazair, Yaman, Lybia dan Syria. Bahkan negara-negara Demokrasi Monarki Arab pun mulai terusik, seperti  Maroko, Yordania, Saudi, dan negara-negara Teluk.
Selama ini Sistem Demokrasi hanya melahirkan diktator-diktator  dunia, dan menghasilkan koruptor kelas kakap, bahkan menciptakan kapitalis-kapitalis internasional yang rakus dan serakah. Sistem Demokrasi adalah  sumber problem yang banyak melahirkan gerombolan mafioso dan generasi oportunis, sekaligus merupakan wadah tempat bersemayamnya anjing-anjing penjilat kekuasaan. Hal tersebut  karena  Sistem Demokrasi merupakan pintu masuk kaum Kapitalis untuk meraih kekuasaan.
One man one vote dalam Sistem Demokrasi telah memberi peluang kepada kaum borjuis untuk membeli suara rakyat, sehingga saat berkuasa mereka berlomba mengeruk kekayaan untuk mengembalikan modal beli suara, sekaligus mengais keuntungan sebesar-besarnya.  Sistem Demokrasi merupakan sumber malapetaka dan kehancuran.
Sistem Demokrasi penuh intrik dan tipu muslihat, karena sistem ini selalu bertopeng kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, musyawarah dan mufakat. Padahal, justru sistem ini yang paling tidak berperikemanusiaan, lihat saja bagaimana negara-negara sekutu atas nama Demokrasi memporak-porandakan Iraq dan Afghanistan. Justru sistem ini yang paling tidak menghargai kesetaraan, buktinya kulit berwarna masih menjadi warga kelas dua di negara-negara Barat yang menganut demokrasi. Justru sistem ini yang paling tidak adil, buktinya secara terang-terangan mereka melarang warga muslimah di negeri mereka untuk berjilbab.
Soal musyawarah mufakat dalam Sistem Demokrasi hanya omong kosong. Inti Demokrasi adalah suara terbanyak, bukan musyawarah mufakat. Selain itu musyawarah dalam Demokrasi bisa menghalalkan yang haram, dan bisa pula mengharamkan yang halal. Yang penting tergantung suara terbanyak. Buktinya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak bisa membolehkan perkawinan sejenis (Homo dan Lesbi), lokalisasi pelacuran, legalisasi perjudian, legitimasi aliran sesat, formalisasi korupsi dan halalisasi segala keharaman. Dan sebaliknya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak juga bisa melarang jilbab, cadar, tabligh, da’wah, hisbah, pembangunan masjid, madrasah dan pesantren.
ISLAM vs DEMOKRASI
Antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi memiliki perbedaan yang sangat besar dan mendasar serta fundamental, sehingga keduanya mustahil disatukan. Islam dan Demokrasi bagaikan langit dan bumi, umpama matahari dan bulan, seperti lautan dan selokan. Dalam rangka membuka Topeng Demokrasi, maka perlu diuraikan beberapa perbedaan yang sangat prinsip dan fundamental antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi.
Pertama, Sistem Islam berasal dari sumber ilahi karena datang dari wahyu Allah Yang Maha Agung dan Maha Suci, sehingga bersifat sangat sempurna. Sedang Sistem Demokrasi berasal dari sumber insani karena datang dari akal manusia yang lemah dan penuh kekurangan, sehingga sangat tidak sempurna. Karenanya, dalam Sistem Islam hukum dari Allah SWT untuk manusia, sedang dalam Sistem Demokrasi hukum dari manusia untuk manusia.
Kedua, dalam Sistem Islam wajib digunakan Hukum Allah SWT, sedang dalam Sistem Demokrasi wajib digunakan keputusan suara terbanyak. Karenanya, Sistem Islam tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang Sistem Demokrasi tidak tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ketiga, dalam Sistem Islam tidak dipisahkan antara agama dan negara, sedang dalam Sistem Demokrasi dipisahkan antara agama dan negara. Karenanya, Islam menolak pemahaman sekuler dan segala bentuk sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara. Sedang Demokrasi memang lahir dari penentangan terhadap  agama, sehingga Demokrasi selalu mengusung sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara.
Keempat, dalam Sistem Islam standar kebenaran adalah akal sehat yang berlandaskan Syariat, sedang dalam Sistem Demokrasi standar kebenaran adalah akal sakit yang berlandaskan hawa nafsu kelompok terbanyak. Karenanya, dalam Sistem Islam baik buruknya sesuatu ditentukan oleh Syariat, dan wajib diterima oleh akal sehat. Sedang dalam Sistem Demokrasi baik buruknya sesuatu tergantung hawa nafsu orang banyak, walau pun tidak sesuai Syariat atau pun tak masuk akal sehat.
Kelima, dalam Sistem Islam tidak sama antara suara Ulama dengan suara Awam, antara suara orang Sholeh dengan suara orang jahat. Sedang dalam Sistem Demokrasi suara semua orang sama : Ulama dan Koruptor, Guru dan Pelacur, Santri dan Penjahat, Pejuang dan Pecundang, Pahlawan dan Bajingan, tidak ada beda nilai suaranya. Karenanya, dalam Sistem Islam hanya orang baik yang diminta pendapatnya dan dinilai suaranya, itu pun suara mereka tetap disebut sebagai suara manusia. Sedang dalam Sistem Demokrasi semua orang baik dan buruk disamakan, bahkan suara mereka semua disebut sebagai suara Tuhan.
Keenam, musyawarah dalam Sistem Islam hanya menghaqkan yang haq dan membathilkan yang bathil, sedang dalam Sistem Demokrasi boleh menghaqkan yang bathil dan membathilkan yang haq. Karenanya, dalam Sistem Islam tidak ada Halalisasi yang haram atau haramisasi yang halal, apalagi haramisasi yang wajib, sedang dalam Sistem Demokrasi ada halalisasi yang haram, dan haramisasi yang halal, bahkan haramisasi yang wajib.
Ketujuh, asal-usul Sistem Islam sudah dimulai sejak zaman Nabi Adam AS, karena sejak Allah SWT menciptakan Adam AS sudah dinyatakan sebagai Khalifah di atas muka bumi sebagaimana firman-Nya dalam  QS.2.Al-Baqarah : 30. Dan Sistem Islam tersebut sempurna di zaman Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kaidah dan tatanan kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang beliau praktekkan bersama para Sahabat yang mulia. Allah SWT menyatakan kesempurnaan Islam dalam QS.5.Al-Maidah : 3. Sedang Sistem Demokrasi konon katanya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, tapi yang jelas baru muncul pasca Revolusi Kebudayaan Perancis pd Th.1789 M, yang kemudian lahir Teori Trias Politika karya Rossou, yang kemudian terus dikembangkan dengan berbagai variasi dan aksesoris, dan hingga saat ini tidak pernah sempurna, bahkan makin hari makin tampak bobrok dan busuknya.
Kedelapan, rentang waktu antara sempurnanya Sistem Islam di abad ke-7 pada zaman Nabi SAW (571 – 632 M) dan munculnya Sistem Demokrasi di abad ke 18 pasca Revolusi Kebudayaan Perancis Th.1789 M, menunjukkan bahwa Sistem Islam sekurangnya lebih dulu 11 abad dari pada Sistem Demokrasi. Karenanya, jika ada persamaan antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi, maka bisa dipastikan bahwa Sistem Demokrasi yang menyontek dan menjiplak Sistem Islam, mustahil sebaliknya.
Kesembilan, Sistem Islam telah membuktikan diri sebagai sistem terbaik yang adil, jujur dan amanah sepanjang kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khulafa’ Rasyidin, serta berhasil mengantarkan umat Islam menjadi umat yang terbaik, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.3. Ali-’Imran : 110. Sedang Sistem Demokrasi sejak kelahirannya hingga kini tak pernah berhasil membuktikan diri sebagai  sistem terbaik, bahkan sebaliknya, makin hari makin terkuak bobrok dan rusaknya.
Kesepuluh, Sistem Islam adalah bagian dari kewajiban agama, sehingga penerapannya mendatangkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Sedang Sistem Demokrasi bukan bagian dari kewajiban agama, bahkan merupakan penentangan terhadap agama, sehinggga penerapannya hanya akan mendatangkan dosa dan malapetaka.
ISLAM YES, DEMOKRASI NO !
Dengan uraian di atas, jelas sekali bahwa Sistem Islam mengungguli Sistem Demokrasi dalam semua hal. Mulai dari keautentikan sumber dan kesempurnaannya, lalu kepatuhan kepada Syariat dan kesehatan akalnya, kemudian keaslian musyawarah dalam makna yang sebenarnya, dan kemurnian asal-usul sejarah serta keindahan peradabannya, hingga keberhasilan pembuktiannya sebagai sistem terbaik yang mendatangkan pahala dan keberkahan ilahi.
Itulah karenanya, para pemuja Demokrasi iri dan dengki terhadap Sistem Islam, dan mereka tidak rela Sistem Islam bangkit dan berjaya kembali.  Dalam dunia informasi, tiada hari tanpa propaganda media yang selalu menyudutkan Sistem Islam. Berbagai ucapan, perkataan dan pernyataan terus-menerus dilontarkan untuk memadamkan cahaya Islam. Namun demikian, cahaya Islam akan tetap bersinar, dan akan kembali memperoleh masa jayanya, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam QS.61.Ash-Shaff : 8 – 9 dan QS.9.At-Taubah: 32 – 33.
Akhirnya, kita harus berani mengatakan : Islam Yes, Demokrasi No ! Hidup Islam, Hancurlah Demokrasi ! Allahu Akbar !  sumber sharia4indonesia.com

8.3.11

Arif Uka tembak mati tentara kafir AS setelah tentra kafir perkosa anak afghanistan

FRANKFURT (Arrahmah.com) - Seorang warga Jerman kelahiran Kosovo, Arif Uka (21) yang menyerang sebuah bis yang membawa personel militer AS, di mana dua tentara kafir AS tewas dan 12 lainnya cedera serius di Bandara Frankfurt, mengatakan bahwa ia telah menyerang bis berisi prajurit setelah melihat video di internet yang memperlihatkan tentara salibis AS di Afghanistan menyerang rumah sipil dan memperkosa gadis kecil.
Selain itu, Arif mendengar bagaimana tentara Amerika di Bandara Frankfurt merendahkan Muslimah Afghanistan.
Dengan demikian, itu adalah pemerkosaan brutal seorang Muslimah kecil yang akhirnya memimpin seorang pemuda Islam untuk mengambil keputusan membunuh tentara AS yang dikirim ke Afghanistan untuk berpartisipasi dalam permusuhan terhadap Afghanistan.
Menurut Arif Uka, dia adalah seorang Muslim, dan sebelum melepaskan tembakan, dia berteriak dengan lantang, "Allahu Akbar!" enam atau tujuh kali.
Seperti yang dikatakan Uka, sebuah pistol dan 24 cartridge dia beli beberapa bulan lalu seharga 1.000 poundsterling.
Arif Uka yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, bertindak sendirian, tanpa komando atau perintah dari kelompok manapun.  (haninmazaya/arrahmah.com)

7.3.11

Gerakan Jihad, Partai Islam dan Pelajaran dari Tentara Thalut

Minggu, 06/03/2011 08:35 WIB 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." ( Al-Baqarah ayat: 249)
Bila membaca ayat diatas penulis mendapatkan sebuah titik temu dengan fenomena yang terjadi di kancah dakwah Islam di Indonesia. Dimana ada sebuah kenyataan yang hadir ditengah-tengah gerkan dakwah.
Ada aktivis dakwah yang hidupnya makmur dan sejahtera karena hidup dari dakwah dan ada yang hidupnya sederhana atau bisa dibilang pas-pasan untuk membiayai aktivitas dakwahnya kepada ummat Islam. Dua hal yang saling bertolak belakang.
Sebagai contoh adalah gerakan jihad dan partai Islam yang berjuang melalui demokrasi. Disaat gerakan jihad sedang menghadapi makar, diburu dan didzalimi, disisi lain ada partai Islam yang hidupnya makmur,bermesraan dengan penguasa dan menjadi tukang stempel kebijakan penguasa walaupun berlawanan dengan pokok-pokok aqidah Islam.
Gerakan jihad dan Partai Islam
Mungkin bagi sebagian orang melihat gerakan jihad adalah gerakan yang konyol dan tidak realistis, ini pendapat sebagian orang yang tidak mengerti. Sah-sah saja.
Namun gerakan jihad telah membuktikan kepada dunia bahwa aqidah adalah harga mati dan tidak bisa ditawar dengan apapun, seperti tentara Thalut yang mengambil air secukupnya untuk menghilangkan rasa haus.
Karena gerakan jihad yakin bahwa ketika seorang aktivis yang berlebihan dalam meneguk segarnya dunia hanya akan memalingkan dirinya dari jalan yang dia sudah komitmen dari awal untuk menempuhnya walaupun dunia dan siksa silih berganti datang bertubi-tubi.
Bandingkan dengan partai-partai yang mengaku memperjuangkan Islam melalui parlemen demokrasi. mereka berberebut kuasa, proyek dan popularitas di masyarakat dengan menghalalkan segala cara.
Menghina syariat islamnya sendiri, membela aliran sesat yang menodai Dien sucinya dan seabrek kebijakan yang tidak pernah sedikitpun membela kepentingan ummat tapi mungkin membela golongannya sendiri.
Mereka terjebak seperti tentara Thalut yang kekenyangan dengan air yang diperintahkan untuk meminumnya hanya seciduk tangan, kesegaran dunia memang melenakan apalagi bagi aktivis dakwah yang dulunya hidup pas-pasan setelah mengetahui bahwa harta dan tahta begitu nikmat dan mengiurkan, mereka pun tergelincir di dalamnya.
seperti kata pepatah “ jangan pernah kasih kucing kurap itu sayap, dia tidak hanya memakan yang ada di darat tapi dia pasti akan memburu yang ada di udara”.
Inilah seleksi alam bagi dakwah Islam, dakwah tidak membutuhkan banyaknya orang yang berkerumun, banyaknya orang terkenal disana dan banyaknya dana yang dimiliki. Dakwah Islam ini adalah pekerjaan Allah SWT, Dia punya cara tersendiri untuk memenangkannya dan melihat siapa yang benar dan jujur kepada apa yang diemban. seperti firman Allah SWT :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah:214)
Dakwah adalah sebuah keyakinan, apa gunanya memperjuangkan kesejahteraan tapi mengadaikan aqidah, memperjuangkan hak-hak manusia tapi hak-hak Allah SWT dilanggar.
Kapan umat akan melek dengan tauhid,syariah dan jihad bila para pengembannya saja malu-malu untuk membicarakannya, minder dengan keIslamannya dan menjual ayat-ayatnya mengatasnamakan maslahat dakwah, maslahat pribadi mungkin.
Tadzkiroh
saya kutipkan kata-kata dari Syaikh Ahmad Bawadi dari Imarah Afghanistan, sebagai pengingat perjalanan, akan dibawa kemana Islam dan ummatnya ini. agar kita tidak terjebak oleh jalan-jalan yang memalingkan kita dari tujuan yang sebenarnya.
Orang yang (telah) mati menjadi hidup karena kata-katanya, karena hal yang telah ditulis oleh tangan mereka. Mereka menjadi hidup karena kata-kata yang benar yang mereka tegaskan, dan keteguhan dari sikap mereka (semasa hidup), meski mungkin jasad mereka hancur dan ruh mereka naik ke langit.
Kata-kata yang telah mereka tulis oleh tangan mereka akan bertahan dan bangkit hidup, serta membangkitkan harapan, setelah mereka mengorbankan dirinya, harta miliknya, darah dan kehidupannya demi apa-apa yang mereka tuliskan, yang merupakan pencerminan konsisten dari nilai-nilai teguh yang mereka yakini, dan prinsip-prinsip kokoh yang tertanam dalam diri mereka demi Din Islam ini.
Pada saat itu (ketika mereka mengorbankan dirinya demi kata-katanya), kendati mereka gugur, Islam dan kaum Muslimin akan berjaya melalui mereka.
Para pembela iman akan dimuliakan sementara para pembela syirk dan berhala akan dihinakan. Kehidupan akan dihormati dan diagungkan. Darah dan pengorbanan mereka adalah bahan bakar dan suluh api yang akan mengangkat gelapnya kezholiman dan menyingkap hilang kesedihan dan derita.
Keadilan akan menang dan kaum tertindas akan terbela. Ruang-ruang penjara akan kosong dan orang yang terbelenggu akan bebas. Tak akan ada lagi kehilangan hak, korupsi ataupun sogokan.
Sementara orang yang hidup (sesungguhnya) mati, meski engkau melihat tubuh mereka masih berjalan di atas bumi, mereka tidak punya kehidupan. Mereka mati (meski jasadnya hidup) karena kematian hati. Dan hati mereka mati karena hidup mereka di dunia hanya sekedar memenuhi tuntutan nafsunya, kenyamanan dirinya, dan ambisi dunianya.
Yang jadi perhatian mereka hanyalah berapa gaji mereka dari pekerjaan, berapa gaji mereka dari khutbah dan fatwa yang mereka sampaikan, gaji yang mereka dapatkan setelah mereka menunjukkan keangkuhannya terhadap Islam beserta segenap pembelanya yang jujur.
Mereka membelakangi (Islam) dan harga yang dibayar sangat murah: beberapa dirham dan sedikit ketenaran yang mengkilap karena digosok/dibasuh oleh darah orang-orang mulia dan merdeka.
Mereka tersungkur di hadapan Rabbul Alamin di tengah-tengah majelis mereka, di jaringan televisi satelit mereka, ketika mereka tenggelam dalam kubangan kesalahan yang menjebak mereka dari ujung kaki hingga ubun-ubun!
Mereka menyingkirkan ummat dari Islam, menyesatkan mereka dan membuat mereka jahili. Dari lisan mereka keluar tuduhan keji, siapa saja yang menentang mereka disematkan label buruk orang tersesat atau anak muda bodoh ingusan.
Mereka bicara mengelu-elukan kebaikan orang-orang yang menghancurkan Din, tetapi diam membisu terhadap kelakuan buruk kaum durjana itu dan kekejian yang mereka lakukan dalam memerangi agama.
Maka tidak mengejutkan, mereka menjadi alat pemukul di tangan kaum durjana. Bagi mereka, para ahlul haq dan orang yang teguh di atas keyakinan dikatakan sebagai penyesat dan ahlul bid’ah.
Di mana saja kaum pengecut itu berlalu, bumi berguncang… perpecahan dan konflik merekah, ketika mereka berkhutbah tentang kondisi ummah dan nasib Kaum Muslimin. Islam dan Muslimin akan diperhinakan, kehidupan hanya menghadapi kekejaman dan keterpurukan. Tidak ada yang mereka tawarkan kecuali sikap menyerah, menghambakan diri, dan menjadi obyek penderita.
Negeri-negeri akan dijajah, dan Al Quran dinistakan. Seluruh nilai-nilai kesucian akan dicemari, para akhwat muslimah yang suci diperkosa, kehormatan akan dibinasakan, dalam rangka menghidupkan kembali Laka’ ibnu Laka’ di atas tulang belulang orang-orang suci, kaum mulia, dan ummat yang tak berdosa.
Di tangan mereka (kelak) Islam akan diluruhkan, seperti pakaian yang dicuci hingga warnanya memudar, lalu tak akan ada lagi shoum atau zakat; atau ketulusan akan dipahami.
Tetapi mereka akan menemui taqdir yang buruk dan akhir yang jelek, bi idznillahil wahidil Ahad, di tangan Allah Yang Maha Pemurah, sebagai buah dari apa yang sentiasa mereka lakukan terhadap Ummah, atas setiap ceceran darah yang mereka tumpahkan bersama fatwa mereka, atas setiap sikap bisu yang mereka lakukan tentang Al Haq, dan kegigihan mereka mengemas kepalsuan.
Aduhai sungguh malang… karena tetap saja mereka merasa telah melakukan kebaikan: “Mereka menjadikan indah perbuatan buruk yang mereka lakukan, sehingga kemudian mereka merasa bahwa mereka berada di atas kebaikan…” Ibnu Abi Duwat (ia adalah manusia celaka yang menebarkan fitnah khalqil Quran) memperoleh penghidupan (dari para sulthan) di atas kubangan darah Al Buwaity (salah seorang murid Imam Syafi’i, semoga Allah melimpahkan kasih sayang padanya).
Meskipun ia (Ibnu Abi Duwat) sangat terkenal karena ilmunya, kefasihannya berbicara dan sikap royalnya, tetapi ia tidaklah lebih dari manifestasi niyat yang rusak, dan aqidah yang busuk, sehingga ilmu serta kefasihannya tidak bermanfaat untuknya, dan ia kemudian menemui akhir hidup yang tragis diakibatkan bagaimana ia mengkritisi, mengolok-olok, dan menimpakan bencana kepada ahlul iman dan ahlul haq.
Sayyid Quthb (bersamanya adalah Abdullah Azzam, setiap kali tersebut nama di antara dua orang ini, hati saya menangis. Pent), seseorang yang dipercaya kata-kata dan tulisannya akan dapat dimusnahkan, dan ajarannya akan terhapus dari hati dan jiwa manusia. Tetapi ternyata, kata-kata Beliau hidup, seakan dipahat di atas batu cadas yang kokoh.
Sementara kata-kata dari mereka yang mencoba menghancurkan kehormatan Beliau, tulisan Beliau, tenggelam dalam kematian, bahkan (secara tak sadar) mereka terpesona oleh kata-kata Beliau, tulisan Beliau. Ada lagi kalangan yang lain, yang mencuri darinya, berlagak seakan kata-kata Beliau adalah buah pemikiran mereka.
Allah menyingkapkan topeng mereka, mempermalukan mereka, dan meruntuhkan istana-istana mereka. Mereka itu sesungguhnya telah mati meski mereka masih hidup, sementara Sayyid Qutbh hidup (sentiasa) meskipun Beliau telah berpulang ke hadlirat Allah.
Sayyid Quthb membayar kata-katanya dengan darahnya. Sementara orang-orang yang lain, memperoleh bayaran karena khutbah mereka, buku dan tulisan mereka, yang mereka tujukan untuk merendahkan Sayyid Quthb.
Lalu yang lain lagi, yang mencuri kata-kata Beliau, lalu mengumpulkan bayaran dari rumah-rumah penerbitan, atau mempromosikan diri mereka atas nama Sayyid Quthb dan memperoleh reputasi di jaringan stasiun media dengan mengkritisi Beliau: Sayyid Quthb hidup meskipun Beliau telah wafat, sementara mereka (pada hakekatnya) telah mati meskipun mereka masih hidup.
Banyak putra-putra dari Da’wah ini hidup, dan kata-kata mereka hidup bersama mereka, ketika mereka membangkitkan ke tengah ummat kemuliaan dari Din Islam, sehingga ajaran agama yang haq ini diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
Orang-orang sholeh dan jujur berkumpul di sekeliling mereka, dan pada hari-hari itu kesucian tidak tercemari oleh rusaknya dunia, dan tidak dikotori oleh penyimpangan yang diakibatkan oleh tingkah laku, atau khayalan, atau fatwa tambal sulam favoritisme (mis: sikap oportunistik atas nama maslahat da’wah.pent).
Kata-kata kebenaran dan ketulusan merupakan pencerminan konsisten dari niyat ikhlash dan iman yang kokoh. Maka mereka hidup dan kata-kata mereka hidup menjadi menara cahaya dan mercusuar penunjuk, lalu orang-orang sholeh dan beriman mengikuti jejak langkah mereka.
Pengikut yang lain dari Da’wah ini hidup, dan mereka (pernah) mendapatkan tempat yang mulia dan penghormatan di hati ummat. Kemudian tiba-tiba ujian melanda mereka, lalu penghormatan dan pemuliaan ini berganti dengan kematian, penderitaan berkepanjangan, yang membuat hati mereka menjerit dan diri mereka merintih (mengeluhkan) derita dan pengepungan maut. Berharap mungkin ada orang yang mendengarkan dan memberikan perhatian atas hal ini…
Lalu sekonyong-konyong semua menjadi hampa, semua kenangan, ingatan tentang kemuliaan dan penghormatan yang (pernah) bersemayam di hati ummat ini, kesemuanya hilang, manakala orang-orang ini, setelah mengalami berbagai ujian dan cobaan, lalu memilih kehidupan (keselamatan) dari tubuh mereka daripada hidupnya kata-kata mereka, dan setelah mereka memilih prinsip dan ide barat, pendekatan logika (mendahului prinsip Syariat) dan dalil-dalil rasionalisme.
Mereka mengklaim, demi meraih kemaslahatan dan untuk menarik dukungan (lebih luas kepada da’wah) manusia kebanyakan, membujuk hati para pendukung bid’ah dan penyimpangan, mereka merasa harus ‘menyesuaikan sedikit’ jalan perjuangannya, dan ‘menurunkan sedikit’ prinsip-prinsip ideologi yang (pernah) mereka anut.
Mereka perlahan melepaskan nilai dan prinsipnya; maka kaum sekularpun mulai berkumpul di sekeliling mereka. Mereka pun kini menjadi kawan yang sangat menguntung kaum sekularis dan liberal, dan lewat kata-kata mereka sendiri, mereka tanpa sadar telah menjadi sekular juga.
Mimbar-mimbar mereka adalah jaringan MBC dan IBC, dan mereka pun menjadi ulama fiqh ‘yang memudah-mudahkan’ (menggampang-gampangkan, Fuqoha At Tasawwul). Maka orang-orang sholeh dan jujur pun meninggalkan mereka. Tidak ada yang tersisa menyertai mereka, kecuali beberapa kalangan (awam) yang tertipu, orang yang tergoda/terpesona, kaum sekular, liberal, dan demokrat. Mereka perlahan mati meski mereka masih hidup.
Fatwa-fatwa mereka disebarkan di kalangan tentara marinir[1], oleh kalangan yang kasar; orang-orang yang menyerah kalah dan khianat, orang-orang yang takluk. Mereka bertemu di jaringan satelit dan mengkritisi orang-orang yang medan amalnya adalah arena Jihad dan istisyad (kesyahidan). Burung pipit tak akan bergabung kecuali dengan kawanan pipit.
Ahmad bin Hanbal (Sang Imam Ahlu Sunnah) telah berpulang ke rahmatullah, demikian juga sang pemuka fitnah Ibnu Abi Duwat (pemimpin fitnah khalqil Quran) telah mati dan Bishir Al Misri (syaikhnya Mu’tazilah) juga telah mati. Tetapi apa yang telah ditulis Ahmad bin Hanbal tetap hidup, karena Beliau menebus seluruh apa yang ditulis tangannya dan apa yang ditegaskan lisannya, dengan dirinya.
Kata-kata Ahmad bin Hanbal menjadi hidup, ketika Beliau menebusnya, bersama setiap jengkal penyiksaan yang merencah tubuhnya, belenggu yang mengikat leher serta tangannya, dan pemenjaraan yang Beliau alami. Dan seluruh memori tentang Beliau hidup sentiasa hingga hari ini, sebagai bahan pengajaran dan teladan nyata.
Ibnu Abi Duwat dan orang-orang yang menyertainya (sesungguhnya) telah mati meski mereka hidup, ketika mereka menukar kemuliaan dengan menikmati fasilitas di istana-istana sulthan sambil mendengarkan jeritan dan rintihan Ahmad bin Hanbal.
Nilai dan keyakinan mereka mati bersama-sama mereka dan mereka tidak punya hal berharga apapun (untuk dikenang oleh generasi selanjutnya) kecuali sikap mengemis, kezholiman, menjilat penguasa, penghambaan, dan mencintai hawa nafsu.
Apalagi yang masih layak dibanggakan dari sisa-sisa kebenaran? Ibnu Abi Duwat mati terpenjara dalam tubuhnya sendiri, yang lumpuh dan sekarat selama empat tahun (sebelum ia benar-benar mati), tidak mampu digerakkan barang sedikitpun.
Adapun Ibnu Taimiyah, maka memori tentang Beliau seakan abadi, bi idznillah, hingga Allah kelak akan mewarisi bumi ini kepada segenap hambaNya yang sholeh. Beliau menyampaikan pesan dan tadzkirahnya tentang istighotsah, tetapi kalangan ahlul bid’ah tidak menyukainya, karena hal itu telah menjadi kebiasaan mereka di mana saja.
Lalu Ali bin Yaqub Al Bakari menyerang Beliau, menuduhnya kafir, dan menuntut agar Beliau dibunuh. Tetapi kemudian penguasa menghimpun kekuatan dan mendorong rakyat, menggerakkan mereka melawannya (al Bakari).
Maka kini berganti, dialah kemudian yang dicerca, dikutuk, dan dipenjara. Rakyat berhimpun hingga dalam jumlah yang banyak untuk melawannya. Rakyat menyerangnya hingga ia akhirnya terpaksa melarikan diri.
Lalu bumi dirasakan sempit oleh al-Bakari hingga ia tidak dapat menemukan tempat meminta perlindungan kecuali kepada Ibnu Taimiyah. Al-Bakari akhirnya lari berlindung ke rumah Ibnu Taimiyah. Allah telah memuliakan Ibnu Taimiyah dan memori serta segenap pesan Beliau hidup abadi. Sementara musuh-musuhnya mati, dan ikut mati bersama mereka segala ide dan keyakinan mereka.
Ada orang-orang yang rela menebus kata-kata dan tulisan mereka dengan pengorbanan. Mereka tidak mencari makan darinya (tulisan, kata-kata, khutbah, atau fatwa) pun juga tidak mengemis lewat tinta yang dituliskan pada buku mereka. Mereka menghindari hal yang meragukan (syubhat) dan menolak hal yang dilarang (muharramat). Mereka tidak mencari penghidupan dari ‘mencatut’ usaha orang lain ataupun menghina dan mencaci mereka.
Mereka tidak menerima harga dunia dan kenikmatannya yang rendah dan menipu ini. Mereka campakkan kesemua itu di belakang punggungnya. Sebaliknya orang yang berlawanan dengan kaum mulia itu, maka diakibatkan mereka suka mengutuk, menghina, dan mengkritisi kaum yang menggenggam Al Haq, iman dan Jihad, dan karena mereka lebih suka mengelu-elukan kaum yang sesat dan menyimpang, maka mereka dilupakan, tenggelam bersama ditutupnya lembar sejarah.
Wallahu A’lam       sumber; eramuslim.com

6.12.10

Dua detonator meledak di Gereja Katholik Kristus Raja



Sukoharjo (Espos)--Dua buah kaleng susu yang berisi detonator meledak di Gereja Katholik Kristus Raja Wilayah Gawok Jl Pramuka No 2 Blimbing Kecamatan Gatak, Selasa (7/12) sekitar pukul 05.45 WIB.
Dua kaleng susu yang juga berisi sejumlah paku dan batu kerikil dipasang teoat dibawah meteran listrik tepatnya disamping pintu gereja sebelah barat.
Salah satu saksi, Tugimin, 42, mengaku mendengar ada suara ledakan ketika mengantar ibunya ke pasar yang letaknya tidak jauh dari lokasi gereja.
“Ledakan yang pertama lebih keras dibanding ledakan yang kedua. Ada selisih  sekitar lima menit antara ledakan yang pertama dan kedua,” kata Tugimin.
Dikemukakan  dia, setelah mengantar ibunya ke pasar, Tugimin segera ke lokasi ledakan. Sesampainya di gereja sudah banyak kerumunan orang tapi belum ada yang berani masuk.
“Saya melihat ada semburan api sekitar 50 centimeter. Karena tidak ada yang berani masuk, saya pun berinisiatif masuk dengan melompat pagar dan memadamkan api itu,” ujar dia  {solopos}

Sambut Obama, Mujahidin IIA Lancarkan Operasi Besar, 70 Basis NATO dan AS Mendapat Serangan

AFGHANISTAN (Arrahmah.com) - Sumber Afghan mengatakan bahwa 70 basis militer tentara penjajah NATO dan AS secara simultan mendapat serangan dari Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (IIA).
Mujahidin dari wilayah Marjah mengatakan 70 basis militer dan pos pemeriksaan diserang Mujahidin menggunakan senjata berat.

Ratusan Mujahid dikerahkan untuk menyerang basis penjajah di kapm Qari Sada, Abdullah Karo Charahi, Pump Charahi, Wardago Block, Achakzo block, Barbago block, Haji Khandad Block, Mato Khan Charahi, Karo Charahi, Sistani dan lainnya.

Mujahidin menambahkan bahwa helikopter musuh terlihat berputar-putar untuk mengangkut jenazah dan korban luka dari pihak musuh dalam serangan besar ini, namun Mujahidin tidak dapat mengklarifikasi berapa jumlah pasti dari korban tersebut.

Ini adalah sambutan dari Mujahidin IIA untuk menyambut kedatangan "mendadak" Barack Obama ke Afghanistan beberapa hari lalu untuk menemui tentara penjajah di basis Bagram dimana ia mengucapkan selamat kepada para tentaranya yang telah membuat "progres positif" melawan Mujahidin IIA.

Laporan dari distrik Nawzad mengatakan bahwa tentara penjajah dan boneka mereka berusaha membalas dengan melancarkan operasi besar ke distrik Salam Bazaar, Tangyan, Dimyan dan Sri Kala.

Mujahidin melaporkan selama operasi besar tersbeut berhasil menghancurkan sedikitnya 13 tank musuh dan menewaskan sedikitnya 50 tentara AS.  Juga 13 kendaraan lapis baja berhasil dihancurkan.

Tank-tank yang hancur masih terlihat dilokasi. (haninmazaya/arrahmah.com)



Benda Diduga Bom Ditemukan di Polsek Pasar Kliwon

JAKARTA - Benda diduga bom rakitan ditemukan di halaman Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Temuan berupa bungkusan plastik ini masih diselidiki tim Gegana Polda Jawa Tengah.

"Iya memang ada temuan di pagar luar halaman Polsek Pasar Kliwon. Apakah itu bom rakitan atau bukan masih kami selidiki," ujar Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Edward Aritonang saat dikonfirmasi okezone, Selasa (7/12/2010).

Mengenai saksi yang diperiksa dan si peletak benda diduga bom rakitan itu Edward belum mau berkomentar. "Nanti saja, sekrang masih diselidiki temuannya," ujarnya.

3.12.10

Surat Dari Bumi Afghanistan Kepada Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi Hafidlahullah

Abu Muhammad Maqdisi
Afghanistan (Almuhajirun) – Sebuah surat dikirim mujahidin Afghanistan kepada Syekh Abu Muhammad Al Maqdisy. Selain menyatakan penghormatan dan dukungan atas keistiqomahan Syekh Maqdisy selama ini, mujahidin Afghanistan juga mendoakan Syekh Maqdisy agar selalu mendapat perlindungan Allah SWT. Berikut isi lengkapnya :بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya bagi Allah sebagaimana layaknya bagi keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam dan sebagai pedang yang dihunus terhadap leher-leher para thaghut dan para penguasa durjana, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik….wa ba’du:
Allah ta’ala berfirman:
الَّذِينَ ÙŠُبَÙ„ِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّÙ‡ِ ÙˆَÙŠَØ®ْØ´َÙˆْÙ†َÙ‡ُ ÙˆَÙ„َا ÙŠَØ®ْØ´َÙˆْÙ†َ Ø£َØ­َدًا Ø¥ِÙ„َّا اللَّÙ‡َ
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah.” [Al Ahzab: 39]
Dan berfirman:
Ø´َÙ‡ِدَ اللّÙ‡ُ Ø£َÙ†َّÙ‡ُ لاَ Ø¥ِÙ„َÙ‡َ Ø¥ِلاَّ Ù‡ُÙˆَ ÙˆَالْÙ…َلاَئِÙƒَØ©ُ ÙˆَØ£ُÙˆْÙ„ُواْ الْعِÙ„ْÙ…ِ Ù‚َآئِÙ…َاً بِالْÙ‚ِسْØ·ِ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” [Ali Imran: 18]
Dan berfirman:
َ Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠَØ®ْØ´َÙ‰ اللَّÙ‡َ Ù…ِÙ†ْ عِبَادِÙ‡ِ الْعُÙ„َÙ…َاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama.” [Fathir: 28]
Dari bumi karamah (kemuliaan) dan kebanggaan, dari pabrik pencetak kaum laki-laki sejati dan tempat berkiprah para pahlawan serta tempat yang diimpikan oleh jiwa kaum muwahhidin di seluruh belahan barat dan timur bumi, dari bumi yang lewat ketangguhan dan keteguhan para mujahidnya telah hancur berkeping-keping pasukan kafir paling tangguh dan barisan thaghut dhalim yang paling ganas, dari bumi yang tanahnya telah menjadi lahan pekuburan bagi penganut Islam pilihan dan para pembela dien yang terseleksi dari kalangan muhajirin dan anshar, dari bumi Afghanistan yang luhur, kepada sosok gunung yang kokoh diantara para ulama yang jujur dan para da’i yang tulus, dan bintang yang terang bercahaya di langit para pembawa prinsip dan seruan, kepada syaikh yang Rab-nya telah menjadikannya sebagai pemeran di dalam menyingkirkan kotoran yang menyelimuti aqidah shalihah yang murni, dimana ia termasuk diantara orang yang membersihkannya dari tahrif orang-orang yang ghuluw, tipu daya orang-orang yang sesat dan takwil orang-orang yang bodoh, dan mengembalikannya kepada ajaran yang putih bersih, sehingga engkau tidak melihat lagi di dalamnya penyimpangan dan penyelewengan. Dimana ia terangi malam kita yang gelap gulita dengan Millah Ibrahim[1], ia babat penyesatan (yang menimpa umat) dengan Al Kawasyif Al Jaliyyah-nya[2], ia bongkar kedok kebejatan hukum rimba[3], ia senangkan pandangan ini dengan pembungkaman syubuhat Murji’ah Masa Kini[4], dan ia luruskan kesalahan dan kekeliruan dengan Waqafatnya[5]. Dan ucapan-ucapannya serta tulisan-tulisannya masih terus memiliki pengaruh yang dasyat di dalam membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) banyak orang dari ahlul jihad, dimana bibitnya menancap kokoh di dalam dada mereka dan meresap di dalam jiwa mereka, sehingga bibit itu tidak melemah karena hempasan syubuhat dan tidak miring bersama arus banjir penyimpangan dan penyelewengan.
Kepada syaikh yang menjaharkan kebenaran -sebagaimana yang kami nilai dan kami tidak mensucikannya atas nama Allah- yaitu Abu Muhammad Al Maqdisi semoga Allah menjaganya dari tipu daya para thaghut dan makar orang-orang yang berniat jahat, dan semoga Allah melindunginya dan meneguhkan di atas al haq ini tanpa melemah atau mundur atau cenderung (rukun) (kepada thaghut)… Amiin …
Kepada engkau…wahai syaikh kami yang mulia dan ulama kami yang terang-terangan dengan al haq, kami kirimkan ucapan tahiyyah yang penuh berkah lagi suci, tahiyyah penghormatan dan pengagungan, dan ucapan salam yang disertai dengan puncak makna kecintaan dan kasih sayang karena Allah, serta kerinduan yang dipenuhi rasa kangen kepada engkau dan keinginan untuk bermujalasah dengan engkau serta menimba dari ilmu engkau. Dan sudah sewajibnya atas umat Islam secara umum dan atas kader-kadernya dari kalangan ahlul jihad secara khusus untuk berterima kasih kepada engkau wahai syaikh kami yang diberkahi, atas pembelaan engkau terhadap manhaj tauhid dan jihad yang dilakukan secara sirr dan terang-terangan, atas penderitaan yang sangat berat yang engkau pikul di dalam mengemban dakwah mubarakah ini, dan berbagai kesulitan dan kondisi-kondisi yang mencekam yang menghantui engkau, serta penindasan dan penyengsaraan yang engkau alami, dalam rangka menempuh jalan manusia pilihan dari kalangan para nabi dan rasul, dan dalam rangka mentauladani orang-orang yang telah mendahului engkau di dalam memikul amanah yang agung itu dan tampil untuk membelanya serta menjaharkannya. Sehingga engkau telah mengembalikan ingatan kepada ulama-ulama Islam yang besar lagi agung, seperti Abdullah Ibnul Mubarak, Ahmad Ibnu Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Al ‘Izz Ibnu Abdissalam dan yang lainnya yang sangat banyak dari kalangan yang tidak melemah karena bencana yang menimpa di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak menyerah (kepada musuh). Maka bergembiralah wahai syaikh kami yang mulia, karena buah-buah dakwah engkau telah siap panen dan matang, dan sebentar lagi awan para thaghut akan tersingkap dan bumi akan terang dengan cahaya Tuhan-nya, dan kami dengan kaki kuda-kuda kami akan menginjak leher-leher para thaghut arab dan ‘ajam dengan izin Allah. Ini buktinya serangan-serangan pasukan Allah telah bergerak dari sini dari bumi Afghanistan dan ia tidak akan berhenti sampai ia menancapkan panji-panji di Baitul Maqdis dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya. Kami sampaikan kabar gembira kepada engkau bahwa serangan orang-orang kafir telah dipukul mundur dengan kegeramannya seraya tidak meraih kecuali kerugian, kehancuran dan korban mati lewat tangan pasukan Allah dan tentara-Nya yang agung.
Dan ia itu hanya sebentar saja yang tidak sebanding dengan sesuatu pun dari perhitungan zaman, dan pasukan Islam yang besar akan bergerak dari tempatnya dan syari’at Islam akan menaungi belahan bumi walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Namun setiap kelahiran yang agung haruslah mengalami kehamilan yang sulit, berbagai putaran kepayahan dan cobaan, mengecap kemelaratan dan kepedihan, pembersihan orang-orang yang jujur serta penyaringan barisan, “sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami”, sehingga nampaklah al haq dan lenyaplah kebatilan, dan sejarah pun mengukir dengan tinta kebanggaan nama-nama orang yang teguh di hari sedikitnya orang-orang yang teguh, nama-nama orang yang ingkar terhadap kebatilan secara terang-terangan di hari banyaknya orang-orang yang rukun kepada orang-orang yang dhalim,dan nama-nama orang yang mencampakkan hukum-hukum thaghut dan memusuhinya di hari mayoritas manusia menikmatinya dan mengibadatinya. Kami memohon mudah-mudahan Allah meneguhkan engkau di atas hal ini tanpa menyimpang atau menyeleweng atau taraju’ (mundur dari manhaj yang haq) atau inhiraf (berbelok) … Amiin …
Kami sesungguhnya saat memegang tangan engkau di atas hal itu, kami mengetahui bahwa ahlul bathil telah merancang dan membulatkan tekad mereka kemudian datang berbaris-baris untuk menimpakan bencana kepada engkau dan terhadap dakwah tauhid yang penuh berkah ini, namun tatkala mereka tidak mampu menutup cahaya matahari engkau yang berkilau dengan jaring-jaring mereka yang hina lagi busuk, maka mereka beralih menggunakan cara menghina matahari itu dan menuduh busuk sinarnya, dan untuk hal itu mereka mengerahkan setiap orang busuk dan bejat di dalam berbagai forum dan simposium, untuk berupaya mencoreng dakwah tauhid lewat cara menjatuhkan para tokoh rujukannya, dan mana mungkin mereka bisa berhasil! Dan mana mungkin lautan bisa menjadi keruh dengan sebab banyaknya orang yang meludah di dalamnya! Dan mana mungkin langit terganggu dengan lolongan anjing dan hamburan debu, dan seandainya semua manusia berubah menjadi sapu untuk menebarkan debu, maka tetap saja langit itu adalah langit, dan tetap saja engkau adalah seperti engkau yang telah kami kenal dan dikenal oleh ahlul Islam di belahan timur dan barat bumi ini, teguh lagi kokoh, tidak merubah (prinsip) lagi tidak taraju’, penghalang yang kuat di hadapan orang-orang yang membancikan dien ini, benteng yang tangguh di hadapan jalan orang-orang yang menyelisihi millah ibrahim, panah yang tepat sasaran di dada ahli bid’ah dan ahli irja, serta duri yang menusuk di tenggorokan para thaghut dan ulama mereka serta orang-orang yang mengokohkan tahta mereka. Itulah keyakinan kami terhadap engkau dan apa yang kami kenal dari perjalanan engkau, maka berjalanlah engkau di atas jalan yang engkau pegang sedangkan ruhul qudus bersama engkau, Mata Allah mengawasi engkau dan melindungi engkau, serta lisan para mujahidin selalu memuji engkau dan mendoakan engkau. Sedangkan tempat pertemuan adalah di sana dengan izin Allah bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada dan shalihin di taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
“Putera-putera engkau yang berjihad di Afghanistan -semoga Allah menegakkan syari’at-Nya di dalamnya-.”
Jangan lupakan kami dari kebaikan doa
Saudara-saudara kalian di situs Ansharul Mujahidin
https://asansar.info/vb
http://as-ansar.com/vb
http://as-ansar.info/vb
Alih bahasa  :  Abu Sulaiman
17 Ramadlan 1431 H. Sijn PMJ NKB
[1] Maksudnya dengan kitab beliau Millah Ibrahim. (Pent)
[2] Maksudnya Al Kawasyif Al Jaliyyah fi Kufri Ad Daulah As Su’udiyyah, kitab beliau yang sudah kami terjemahkan dengan judul “Membongkar kekafiran Negara Saudi”. (Pent)
[3] Maksudnya Kasyfun Niqab, (Pent)
[4] Maksudnya Imta’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murji’atil’Ashr, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Membongkar Syubuhat Neo Murjiah Yang Berkedok Salafy” dan diterbitkan dengan judul “Salah Kaprah Salafi” (Pent)
[5] Maksudnya kitab Waqafat Ma’a Tsamaratil Jihad, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Renungan-renungan tentang hasil-hasil jihad…” yang diterbitkan oleh Penerbit jazeera dengan judul yang buruk “Mereka Mujahid Tapi Salah Langkah” tanpa sepengetahuan penterjemah, yang membuat sebagian ikhwan tidak suka dengan buku itu dan mencela penulisnya padahal mereka belum membaca isinya. Tapi lihatlah para mujahidin Afghanistan yang menjadi pilar kebanggaan umat Islam sekarang, mereka memuji buku itu dan merujuknya dalam membenahi kekeliruan di dalam amal jihadi! Mudah-mudahan ada penerbit yang mau menerbitkannya lagi dengan judul yang sesuai aslinya. (Pent)

MUI: Amaliyah Istisyhadiyah Bagian dari Jihad dengan Jiwa

JAKARTA (voa-islam.com) – MUI jelaskan perbedaan bom bunuh diri dengan Amaliyah Istisyhadiyah (operasi syahid). Bom bunuh diri adalah bunuh diri untuk kepentingan diri pribadinya sendiri. Sedangkan Amaliyah Istisyhadiyah adalah berkorban nyawa untuk agama dan mencari ridha Allah SWT.
Hal ini diungkapkan Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr Amirsyah Tambunan di hadapan peserta “Workshop Deradikalisasi” di Hotel Alila, Jakarta, (30/11/2010).
Menurut Amirsyah, akhir-akhir ini radikalisme dan terorisme sering dikaitkan dengan agama, khususnya agama Islam. Karenanya, kesalahpahaman terhadap konsep jihad harus diluruskan. ”Mispersepsi dan misunderstanding tentang konsep jihad harus diluruskan,” ujarnya.
Terorisme menurut pandangan MUI, tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. ”Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Jadi tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme,” jelas dia.  
Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 tentang Terorisme, mendefinisikan Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik, bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran.
MUI menjelaskan perbedaan jihad dengan terorisme. Adapun terorisme sifatnya merusak (ifsad) dan anarkis. Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan menghancurkan pihak lain, serta dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas. Sedangkan jihad, sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan. Tujuannya menegakkan agama Allah dan membela pihak-pihak yang terzalimi. Jihad dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas.
”Dengan demikian, hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok maupun negara. Sedangkan melakukan jihad hukumnya wajib,” tandas Amirsyah.  
....Pelaku amaliyah al-Istisyhadiyah adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah SWT....
Mengenai bom bunuh diri dan ’amaliyah istisyhadiyah, MUI menjelaskan, bahwa orang yang bunuh diri itu sesungguhnya membunuh dirinya untuk kepentingan peribadinya sendiri. Sedangkan pelaku ’amaliyah istisyhadiyah mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri adalah orang yang pesimis atas dirinya, sedangkan pelaku amaliyah Istisyhadiyah adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah SWT.
”Jadi bom bunuh diri hukumnya haram, karena merupakan salah satu bentuk tindakan keputusasaan (al-ya’su) dan mencelakakan diri sendiri (ihlakan-nafs), baik dilakukan di daerah damai (dar al-shulh) maupun di daerah perang (dar al-harb),” tegas Amirsya. “Adapun amaliyah istisyhadiyah (mencari kesyahidan) dibolehkan karena merupakan bagian dari jihad bin nafs yang dilakukan di daerah perang dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar di pihak musuh, termasuk melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan terbunuhnya diri sendiri. Amaliyah al-Istisyhadiyah berbeda dengan bunuh diri,” tambahnya.
....Adapun amaliyah istisyhadiyah (mencari kesyahidan) dibolehkan karena merupakan bagian dari jihad bin nafs yang dilakukan di daerah perang dengan tujuan untuk menimbulkan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar di pihak musuh, termasuk melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan terbunuhnya diri sendiri....
Dalam kesempatan itu MUI juga menyampaikan dua rekomendasinya kepada pemerintah dalam penanggulangan Terorisme, yakni: Restrukturisasi BNPT dan Revitalisasi Peran BNPT.  MUI Menegaskan, BNPT hendaknya bersifat independen dan mandiri serta permanen. Para pimpinan BNPT hendaknya mempunyai kompetensi di bidangnya dan memiliki komitmen, integritas dan profesionalitas dalam menjalankan tugasnya.
Soal revitalisasi peran BNPT, MUI berharap BNPT melakukan pembinaan dan perlindungan HAM, melakukan tindakan persuasif, sehingga terhindar dari tindakan represif.
MUI sebagai wadah musyawarah ulama, zu’ama, dan cendekiawan Muslim telah membentuk Tim Penanggulangan Teror (TPT) untuk mendukung pencegahan terorisme di Indonesia. MUI berupaya menekankan, baik melalui TPT maupun halaqah untuk meluruskan pemahaman yang benar ihwal jihad, amaliyah istisyhadiyah, mati syahid, dan bom bunuh diri.
 ”Halaqah yang telah dan tengah dilakukan MUI tersebar di wilayah Jakarta, Padang, Solo, Surabaya, Palu, dan Medan. Dasar pertimbangan pemilihan kota-kota tersebut karena aktivitas keagamaan di sana terbilang tinggi. Sehingga usaha pencegahan terorisme terus diupayakan,” ungkap Amirsyah. [Desastian]

2.12.10

Dr. Abdullah Azzam Rahimahullah


26 November 1989, Dr. Abdullah Azzam dikurniakan syahid setelah berjihad di bumi Palestin dan Afghanistan. 26 November 2007, genaplah 18 tahun pemergian beliau. Peribadi kebanggaan umat. Seorang ulama’ yang memilih untuk hidup sebagai mujahidin, meninggalkan segala kesenangan hidup dan pendapatan yang lumayan. Kisah syahidnya diketahui oleh semua. Beliau akan terus menjadi qudwah kepada mujahidin dan pendakwah sepanjang zaman. Moga Allah menerima ruhnya dan menggantikan kepada umat ini mujahid seumpamanya.
Saya kongsikan di sini beberapa kisah menarik di dalam kehidupan beliau sebelum beliau berjihad di bumi Afghanistan untuk dijadikan renungan dan teladan buat kita.
Permulaan Jihad
Beliau mula mendapat pentarbiahan Ikhwan Muslimin sejak berusia10 tahun. Pernah menziarahi Syeikh Abdul Rahman Khalifah, Muraqib Am Ikhwan Jordan ketika itu. Mula terlibat dengan jihad ketika berusia 26 tahun bermula dari tahun 1967 (tahun penjajahan Palestin keseluruhannya). Berpindah ke Jordan dengan berjalan kaki selama 10 hari setelah keseluruhan Palestin dijajah oleh Yahudi. Meninggalkan isteri yang sarat mengandung dan dua orang anak di sempadan Jordan – Palestin untuk mula aktif di medan jihad. Ketika isterinya melahirkan anak ketiga mereka, beliau berada di medan jihad di Palestin.
Tekanan Di Mesir
Pada tahun 1970 beliau dan keluarga berpindah ke Mesir untuk menyambung pelajaran di peringkat PhD. Berjaya menamatkan PhD di dalam bidang Usul Fiqh di Universiti al-Azhar dalam tempoh yang cukup singkat iaitu setahun lapan bulan. Dikenakan pelbagai tekanan ketika berada di Mesir, di antaranya cubaan untuk memberhentikannya dari al-Azhar dan mengeluarkan beliau dari Mesir. Tekanan-tekanan dikenakan sehingga beliau dan keluarganya terpaksa berpindah di antara 20 buah rumah dalam tempoh tidak sampai dua tahun.
Dakwah di Jordan
Pada tahun 1972 beliau ke Jordan dan bekerja selama lapan tahun di Universiti Jordan. Di situ beliau berjaya menarik ramai pemuda untuk terlibat di dalam jihad di Palestin. Selepas hanya sebulan bekerja di Jordan, beliau berjaya menarik ramai pemuda untuk keluar ke medan jihad di sempadan Jordan – Palestin selama tiga hari, pada minggu terakhir setiap bulan.
Pemecatan Dari Universiti Jordan
Pada tahun 1980 berlaku perselisihan di antara beliau dan Perdana Menteri Jordan ketika itu disebabkan satu karikatur yang disebarkan di dalam sebuah akhbar utama tempatan. Akhbar tersebut menyiarkan satu lukisan yang menggambarkan umat Islam sebagai ajen Amerika Syarikat. Beliau telah menalipon akhbar tersebut dan bercakap dengan pelukis karikatur tersebut. Setelah berlaku perdebatan dan pelukis tersebut menolak untuk meminta maaf, as-Syahid Abdullah Azzam berkata kepadanya: “Jika kamu tidak meminta maaf esok di dalam akhbar itu sendiri, kamu akan melihat akibatnya. Kamu memiliki akhbar dan kami memiliki minbar. Jordan; dari utara ke selatan akan bercakap tentang isu ini. Kami akan memboikot akhbar kamu. Bukalah gudang kamu untuk kamu menyimpan akhbar kamu.”
Pelukis tersebut yang merupakan adik ipar Perdana Menteri telah menghubungi Perdana Menteri. As-Syahid Abdullah Azzam telah dipaksa agar meminta maaf tetapi beliau enggan. Satu dakwaan dikenakan ke atas beliau tetapi beliau berjaya di dalam kes tersebut. Tidak sampai sebulan dari peristiwa tersebut beliau telah dipecat dari jawatannya sebagai pensyarah.
Selepas peristiwa tersebut mereka telah berpindah ke Arab Saudi dan as-Syahid bekerja sebagai pensyarah di sana. Tetapi ianya hanya untuk sembilan bulan sahaja.
Konspirasi di Saudi
Ketika mula-mula beliau sampai di Saudi, beliau mula terdengar tentang berita jihad di Afghanistan. Di situ beliau mula memikirkan bagaimana caranya untuk ke Afghanistan dan membatalkan kontrak lima tahun perkhidmatan dengan universiti. Isterinya menceritakan betapa gelisahnya as-Syahid ketika itu: “Saya merasakan bahawa pada setiap kali beliau masuk tidur, beliau seolah-olah tidur di atas bara api. Berpindah menggolekkan badannya dari satu tempat ke tempat yang lain sambil merintih-rintih meminta Allah memberikan jalan keluar.”
Kerajaan Saudi pada masa itu mula merasakan bahaya kewujudan Abdullah Azzam di bumi Saudi. Mereka mengeluarkan satu iklan tawaran untuk pensyarah yang berminat untuk dipinjamkan ke Pakistan dalam program pertukaran pensyarah. Abdullah Azzam mendaftarkan diri untuk perpindahan tersebut. Rupa-rupanya selepas beliau mendaftarkan dirinya, iklan tersebut ditutup dan beliau adalah calon tunggal yang mendaftarkan diri. Iklan tersebut rupanya dibuat khusus untuk mengeluarkan beliau dari Saudi.
Tiga Pilihan Buat Isteri
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Isteri beliau menceritakan tentang nekad Abdullah Azzam untuk berjihad di Afghanistan:
Azzam kembali ke rumah dan berkata kepadaku: “Kemas pakaian kamu ke dalam beg. Saya tidak tahu ke mana kita akan pergi. Saya juga tidak mahu menyebut ke mana kita akan pergi.”
Kemudian beliau lebih membingungkan saya apabila beliau berkata kepada saya: “Saya akan berpindah dan kamu mempunyai tiga pilihan. Saya tidak mahu mendengar pilihan kamu sekarang. Fikirkan selama seminggu. Jika kamu ingin duduk di rumah ini di Saudi, kamu boleh lakukannya. Ini adalah rumah untuk seorang profesor universiti. Rumah seumpama istana dan perabotnya semua buatan Eropah. Kamu akan mendapat kereta buatan Amerika dengan pemandunya sekali. Yuran pengajian anak-anak semua ditanggung oleh universiti. Gaji saya semuanya adalah untuk kamu. Atau (pilihan kedua) kamu juga boleh kembali ke Jordan. Kamu akan tetap mendapat rumah dan kenderaan serta hidup di tengah-tengah keluarga, rakan-rakan dan kesayanganmu. Atau (pilihan ketiga) kamu ikut saya dan bersedia untuk menghadapi apa juga suasana yang akan menimpa. Saya tidak bertanggungjawab atas apa pilihanmu. Fikirkan dan mintalah pandangan orang lain. Moga-moga Tuhan akan mengurniakan kamu keteguhan dan kematangan.”
Kemudian beliau membawa saya ke rumah yang disediakan oleh pihak universiti. Saya tidak pernah melihat rumah itu sebelum ini kerana sejak tiba ke Saudi, saya lebih suka tinggal di rumah yang berhampiran dengan Masjidil Haram.
Saya tidak sabar untuk menunggu seminggu. Saya cuma mampu bertahan sehari sahaja. Selepas itu saya berkata kepadanya: “Kenapa kamu memberikan saya tiga pilihan? Kamu lari dari tanggungjawab. Saya mempunyai anak-anak yang perlukan bapa. Apa yang mampu dilakukan oleh rumah yang besar dan saudara mara? Kamu meninggalkan saya dengan bebanan 7 orang anak; empat lelaki dan tiga perempuan. Bagaimana saya mampu menanggung semua ini bersendirian? Saya tidak mahu tinggal di sini atau di Jordan. Jika kamu tergantung di udara sekali pun, kami akan tetap bersama kamu.”
Abdullah Azzam bertakbir kegembiraan lalu berkata: “Demi Allah, kamu memilih apa yang saya pilih. Itu lebih menggembirakan saya dari pilihan-pilihan yang lain.
Kisah Rezeki di Pakistan
Tiba di Pakistan, Abdullah Azzam meminta agar pihak pengurusan universiti menghimpunkan kelasnya pada dua hari sahaja seminggu. Dia akan berada di Pakistan selama dua hari dan berada di medan jihad di Afghanistan selama lima hari. Ini berterusan selama tiga tahun.
Ada cubaan untuk mengembalikannya ke Saudi setelah mereka mendapati bahawa beliau lebih merbahaya jika berada di Pakistan daripada di Saudi. Ketika beliau ingin memperbaharui visanya, urusan tersebut tidak berjaya dilakukan. Alasan yang diberikan adalah kerana dia diperlukan di Saudi dan tidak lagi di Pakistan. Sebenarnya setiap kali beliau memperbaharui visa, beliau akan membawa di dalam poketnya surat perletakan jawatan dan menjangkakan bahawa perkara tersebut akan berlaku. Beliau terus mengemukakan surat perletakan jawatan tersebut dan memilih untuk hidup sebagai mujahid di bumi Afghanistan.
Tidak lama selepas itu, Rabitoh Alam Islami yang mendengar berita perletakan jawatannya itu menawarkan kepada beliau kerja di Rabitah Alam Islami dengan separuh dari gaji beliau di universiti. Demikianlah benar apa yang dijanjikan Allah: “Di langit itu rezeki kamu dan apa yang dijanjikan untuk kamu.” (Az-Zariyat: 22)
Gambaran Kehidupan Sebuah Keluarga Mujahidin
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Isteri beliau menceritakan: “Kami berpindah ke rumah seluas 2.5 x 3 meter. Di situlah dapur. Di situlah ruang tamu. Di situlah bilik tidur. Bahkan kami mandi di situ juga.”
Beliau menceritakan lagi: “Apabila waktu tidur, saya akan membariskan anak-anak saya dan saya tidur dihujung kaki mereka. Apabila masuk waktu Subuh, tidak ada ruang untuk solat Subuh. Saya mengambil wudhu’ di situ dan solat di situ.”
Tentang pendidikan anak-anak beliau berkata: “Anak-anak saya sudah besar. Mereka perlu kepada sekolah Arab. Di sana tidak ada sekolah Arab kecuali sekolah Libya yang bercampur di antara lelaki dan perempuan. Saya tidak dapat mencarikan sekolah yang sesuai untuk anak-anak perempuan saya sedangkan mereka sudah sepatutnya masuk sekolah menengah. Anak-anak lelaki masih di sekolah rendah, jadi saya hantar mereka ke sekolah Libya. Manakala anak-anak perempuan belajar di rumah. Saya meminta pertolongan beberapa orang guru perempuan untuk mengajar mereka. Saya mendaftarkan anak-anak perempuan saya di Kedutaan Mesir dan mengambil peperiksaan di sana. Mereka mendapat sijil mereka dari Kedutaan Mesir.”
Qudwah
Demikianlah sedikit kisah tentang permulaan jihad as-Syahid Dr. Abdullah Azzam di bumi Afghanistan. Moga-moga Allah memberikan kita kekuatan untuk mencontohinya.

23.11.10

Jiwa Para Perindu Syahid

 

Bismillahirohmanirrohim……………..
Setiap manusia akan mati, dan sebaik-baik kematian ialah mati syahid. Dan syahid di medan jihad lebih utama dari macam-macam bentuk syahid di tempat yang lain. Tidak ada seorang yang benar imannya melainkan pasti dia merindukan mati syahid.
Berita syahid dalam Al Qur’an:
Allah I berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”[1]
Berita syahid dalam Sunnah:

Dari Jabir t ia berkata:
Ketika Abdullah bin ‘Amr bin Haram gugur dalam peperangan Uhud, Rasulullah bersabda kepada Jabir: Hai Jabir! Apakah kau ingin mendengar kabar tentang ayahmu? Bagaimana Allah memperlakukannya? Jabir menjawab: Ya, aku ingin mendengarnya. Rasulullah bersabda: Tidak sekali-kali Allah berfirman kepada seseorang kecuali hanya berbicara dari balik hijab. Tetapi Allah berbicara dengan ayahmu tanpa aling-aling. Allah mengatakan kepada ayahmu: Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Ayahmu menjawab: Wahai Rabbku, biarkanlah hamba hidup lagi, maka hamba akan berperang lagi untuk-Mu yang kedua kalinya. Allah mengatakan: Hal itu telah Aku tentukan, bahwa siapa saja yang telah mati takkan bisa hidup kembali di dunia. Kemudian ayahmu memohon lagi: Wahai Rabbku, beritahukan orang-orang yang sesudahku nanti. Setelah itu Allah menurunkan ayat – QS Ali ‘Imran, 3: 169.[2]
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah n bersabda:

Rasulullah bertanya (kepada pada sahabat): “Siapa yang kalian anggap syuhada’ di antara kalian? Mereka menjawab: Siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka dialah syahid. Berujarlah beliau: Jika demikian, tentu orang-orang yang mati syahid dari ummatkusangat sedikit? Merekapun bertanya: Jadi, siapa ya Rasulullah? Beliau berkata: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid; dan barangsiapa yang mati terkena wabah penyakit, maka dia syahid; dan barangsiapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid. Berkata Ibnu Miqsam: Aku bersaksiatas bapakmu –yakni Abu Shalih- bahwasanya dia berkata: Dan orang yang mati tenggelam adalah syahid.”[3]
Rasulullah n bersabda:
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid; dan barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka dia syahid; barangsiapa yang terbunuh karena membela Diennya, maka dia syahid; dan barangsiapa yang terbunuh karena keluarganya, maka dia syahid.”[4]

“Barangsiapa yang keluar di jalan Allah (berjihad) lalu mati, atau terbunuh, maka ia syahid; atau dilemparkan kuda atau untanyahingga mati, atau disengat binatang berbisa, atau mati di atas tempat tidurnya dengan cara kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka sesungguhnya dia syahid, dan dia akan memperoleh surga.”[5]

“Barangsiapa yang memohon syahadah (kematian syahid) kepada Allah dengan benar/jujur, maka Allah akan mengantarkannaya kepada kedudukan syuhada’, meski dia tidur di atas tempat tidurnya.”[6]
Macam-macam mati syahid
Orang-orang yang mati syahid banyak kategorinya, ada yang syahid akhirat, syahid dunia dan syahid dunia akhirat. Orang yang syahid akhirat banyak contohnya seperti: orang yang mati sebagai ahli ilmu, atau sewaktu menuntut ilmu, atau ketika tengah melakukan ribath (berjaga di medan jihad), atau ketika berhaji, atau karena sakit panas, atau karena keruntuhan, atau terbunuh dalam keadaan teraniaya, dll.
Bersabda Rasulullah n:
“Amma ba’du … kematian yang paling mulia/terhormat adalah terbunuh sebagai syuhada’…”[7]
Para fuqoha’ membagi syahid menjadi tiga macam, secara terperinci dalam madzhab-madzhab … namun secara umum adalah sebagai berikut:
a)    Syahid dunia dan akhirat: yakni orang yang terbunuh dengan sebab memerangi orang-orang kafir, meninggikan kalimat Allah tanpa disertai kenifakan, riya’, ataupun ghulul dari harta ghanimah… inilah dia syahid yang sempurna, dan merupakan bentuk syahadah yang paling utama, dan orangnya mendapatkan pahala yang paling besar.
b)    Syahid dunia saja: yakni orang yang berperang (dan terbunuh) karena mencari ghanimah, atau karena riya’, atau karena kenifakan.. yang seperti ini tidak mendapatkan pahala, namun tetap diperlakukan atasnya hukum-hukum yang lahir. Kedua golongan syuhada’ ini diberlakukan atas mereka hukum-hukum orang yang syahid:
  • Menurut golongan Hanafi: Tidak dimandikan, tidak dikafani, dan dishalatkan jenazahnya.
  • Menurut golongan Hanbali: Tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalatkan jenazahnya.
  • Menurut golongan Maliki: Tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalatkan jenazahnya.
  • Menurut golongan Syafi’ie: Tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalatkan jenazahnya.
c)    Syahid akhirat saja: yakni orang yang mati karena keruntuhan sesuatu, atau karena tenggelam, atau karena ha semisalnya sebagaimana telah dinyatakan dalam hadits-hadits Nabi. Syahid yang seperti ini dimandikan, dikafani, dan dishalati jenazahnya; secara terperinci dalam madzhab-madzhab: Bagi yang ingin menelaahnya secara mendalam silahkan merujuk kepada kitab-kitab tersebut.[8]

Kemuliaan Mujahidin dan Syuhada’.[9]

  1. Bagi mereka seagung-agung pahala.
  2. Pahala amal mengalir terus.
  3. Mereka akan hidup terus, dan diberi rizki. (lihat QS Ali-‘Imran, 3: 169)
  4. Mereka terdinding dari neraka.
  5. Pahala amal mereka berlipat ganda.
  6. Mereka adalah tamu-tamu Allah dan terjamin pahalanya.
  7. Bagi mereka ampunan Allah dan do’a mereka mustajab.
  8. Mereka ingin syahid berulang kali karena kemuliaan mereka di sisi Alah.
  9. Mereka dihiasi dan dilindungi oleh para malaikat.
10.  Mati syahid, sakitnya seperti dicubit, tidak merasakan siksa kubur dan aman dari kegoncangan yang besar di hari kiamat dan mereka tahu tempatnya di Jannah.
11.  Mereka akan dikawinkan dengan 72 bidadari dan dapat memberi syafa’at 70 orang ahli keluarga.
12.  Mereka dibangkitkan dalam keadaan gagah perkasa, dengan luka-luka mereka masih baru dengan darah yang masih menetes.
13.  Jannah yang kekal abadi tempat kediaman mereka.
14.  Mereka adalah sebaik-baik manusia, Allah mencintai mereka dan tertawa kepada mereka.
15.  Roh mereka berada dalam tubuh-tubuh burung.
Dari Nu’ai  bin Hammar t berkata, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah:
“Syuhada yang manakah paling utama?” “Orang yang bertemu musuh dalam barisan perang, mereka tidak memalingkan wajah-wajah mereka sehingga mereka terbunuh. Mereka akan berjalan di ruangan Jannah yang tertinggi, Allah tertawa melihat mereka dan apabila Allah tertawa kepada hamba-Nya di dunia, maka dia tak akan mengalami hisab.”[10]
Miqdam Ibnu Ma’dikariba berkata, bahwasanya Rasulullah n bersabda:
“Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu: Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Jannah. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari bermata jeli. Dan keenam, dapat memberi syafa’at kepada 70 keluarganya.”[11]
Itulah diantara keistimewaan para syuhada’ dan mujahidin yang berjihad di jalan Allah. Bagi yang ingin memperdalam pemahamannya tentang perkara ini silahkan dia membaca kitab-kitab yang menguraikan masalah ini seperti Kitabul Jihad, Imam Ibnul Mubarak, al Jihaad Sabiiluna, Syaikh Abdul Baqie Ramdhun, Rajulun Shalih: Abu Muhammad Jibril, dll.

[1].     QS Ali ‘Imran, 3: 169-171. [2].     HR Ibnu Majah – no: 2790.
[3].     HR Muslim, no – 3539.
[4].     HR Ahmad – no: 1565, Abu Dawud – no: 4142, at Tirmidzi – no: 1341, an Nasa’ie – no: 4027…
[5].     HR Abu Dawud – no: 2138.
[6].     HR Muslim – no: 3532, Abu Dawud – no: 1299, at Tirmidzi – no: 1577, an Nasa’ie – no: 2111…
[7].     HR Bukhari dan yang lain – shahih –
[8].     Kitabil Fiqh ‘ala al Madzaahib al Arba’ah oleh al Jaza’iri, juz 1, dinukil secara bebas. Lihat Kitab al Jihaad Sabiiluna, hal 198-200.
[9].     Dinukil bebas dari Karakteristik Lelaki Shalih, hal. 181-197. cet. Oktober 2005
[10].   HR Ahmad – no: 21438.
[11].   HR Ahmad – no: 16553, 17115; Tirmidzi – no: 1586; Ibnu Majah – no: 2789.
Jazakallah khairal jazaa’…………………………………..^_^