Wasiat Terbaru Ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk Para Mujahid

24.3.10

Ancaman Al Qaida Pada Kapal yang Berlayar Dari Yaman

Diposting pada Rabu, 24-03-2010 | 07:38:54 WIB
ADEN - Amerika Serikat memperingatkan kemungkinan serangan dari Al Qaida terhadap kapal-kapal di lepas pantai Yaman, di mana sebuah cabang dari jaringan Al Qaida diyakini telah mendirikan basis operasi mereka di sekitar tempat tersebut yang signifikan selama setahun ini.

Yaman menjadi fokus perhatian internasional yang mendalam pada bulan Desember ketika Al Qaida di Semenanjung Arab mengaku bertanggung jawab atas usaha untuk peledakan sebuah pesawat tujuan Detroit, ini menunjukkan bahwa kelompok yang berbasis di Yaman, Timur Tengah ini telah memiliki jangkauan global.

"Informasi menunjukkan bahwa Al Qaida tetap tertarik pada serangan maritim di daerah selat al-Mandeb, Laut Merah dan Teluk Aden di sepanjang pantai Yaman," kata seorang penasihat dari Department of Transportation Amerika, laporan ini telah diposting di  situs Web Office of Naval Intelligence Amerika.

Peringatan mengatakan serangan tersebut bisa sama dengan serangan tahun 2000 terhadap kapal perusak Angkatan Laut USS Cole di pelabuhan Aden Yaman yang saat itu menewaskan 17 pelaut Amerika. Para penyerang menggunakan perahu kecil yang sarat dengan bahan peledak untuk meledakkan sebuah lubang di sisi kapal.

"Metode-metode lain yang lebih canggih dapat mencakup serangan rudal atau tembakan," kata penasihat tersebut.

Secara khusus, kapal berada pada risiko terbesar saat sedang berada di dalam atau di dekat pelabuhan atau di jangkar, katanya.

Pernyataan tersebut menyarankan kapal untuk menuju Selat Malaka dan dari Terusan Suez untuk mempertahankan pandangan 24-jam dan laporan radar secara teratur setiap jam mengenai posisi mereka, dan tentu saja kecepatan pihak berwenang maritim.

Di samping ancaman al-Qaeda, daerah transit kapal-kapal ini juga diserang oleh bajak laut  Somalia yang kerap menyandera kapal-kapal nelayan, kapal pukat serta kapal minyak supertanker untuk mencari tebusan dalam jutaan dolar.

[muslimdaily.net/AP]

Kebodohan dan Muslihat AS Terhadap Perdagangan Obat Bius di Afghanistan

Diposting pada Rabu, 24-03-2010 | 14:39:08 WIB
Rusia dan Amerika Serikat baru-baru ini mulai berbagi informasi mengenai organisasi dan warga Afghanistan yang terlibat dalam perdagangan obat bius, baik yang ikut memproduksi ataupun yang hanya memperdagangkan saja, begitu kata direktur Layanan Federal Rusia untuk Obat-Obatan Terlarang (FSKN), Viktor Ivanov.

Seperti dilaporkan oleh kantor berita Rusia, RIA Novosti, Moskow memberikan informasi kepada Amerika tentang daftar nama warga Afghanistan yang berpartisipasi dalam bisnis kriminal tersebut. Nama-nama yang ada di dalam daftar tersebut kurang lebih sama dengan nama-nama yang pernah dikirim ke konsulat Amerika di Rusia. Menurut Ivanov, Rusia dan Amerika Serikat kemudian mulai mengadakan kerjasama dalam operasi pemberantasan jaringan perdagangan ilegal tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, obat bius yang dipasok dari Afghanistan telah menewaskan lebih dari 1 juta orang di dunia. Selain itu, 16 juta yang lain menderita secara mental atau fisik.

Obat bius juga menjadi bencana besar bagi Rusia. Lebih dari 90% pecandu di Rusia setiap hari mengonsumsi berbagai jenis obat bius yang dibuat dari bahan dasar opium dan dipasok dari Afghanistan. Kurang lebih 30 ribu penduduk Rusia meninggal setiap tahun akibat kecanduan heroin.

Namun, berita terbaru yang dilaporkan surat kabar New York Times mengungkap kalau AS dan pasukan NATO yang beroperasi di Afganistan justru menghentikan operasi penghancuran obat-obat terlarang, karena menurut Jenderal Stanley McChrystal, komandan pasukan Amerika dan NATO dan stafnya, fakta di lapangan menunjukkan kalau candu menjadi sumber pendapatan utama petani di berbagai provinsi di Afghanistan. "Jadi kalau demikian, kami tidak boleh menghilangkan pendapatan mereka, karena kami ingin memenangkan hati mereka." kata Jeffrey Egerz, anggota dari komando grup penasihat strategi militer.

Tanaman opium memang banyak ditanam di penjuru kota Marjah, Helmand yang baru-baru ini berada di bawah kontrol NATO. Pembudidayaan opium melibatkan kurang lebih 60-70% petani dari Marjah dan sekitarnya. Pasukan Angkatan Laut Amerika yang sering beroperasi di sekitar di ladang opium mendapatkan perintah dari komando NATO untuk membiarkan ladang tersebut utuh.

Namun, beberapa pejabat Afghanistan justru khawatir kalau tindakan pembiaran terhadap ladang opium tersebut hanyalah taktik AS untuk membajaknya di kemudian hari, mengingat undang-undang yang ada di Afghanistan menyatakan larangan terhadap penanaman opium.

"Bagaimana kita bisa membiarkan angkatan bersenjata Amerika menjadi pengontrol di ladang opium yang menjadi racun pembunuh bagi orang di seluruh dunia?" Tanya Zulmay Afzali, wakil dari Badan Anti Narkotika Afghanistan.

[muslimdaily.net/Cno]